Pemborosan APBN hingga Triliunan Rupiah, DPR Desak Setop dan Evaluasi Total MBG
- account_circle Redaksi
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

Ilustrasi DPR RI desak setop MBG. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, detak24com – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris, mendesak pemerintah hentikan program MBG selama masa libur sekolah, agar bisa dilakukan evaluasi total.
Pernyataan itu disampaikannya menanggapi pengakuan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang mengungkap adanya pembengkakan ribuan titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang diduga berkaitan dengan praktik jual beli titik.
“Ini bukan persoalan kecil. Pernyataan Pak Zulhas harus menjadi alarm keras bagi pemerintah. Jika benar terjadi pembengkakan yang berpotensi menimbulkan pemborosan lebih dari Rp1 triliun setiap bulan, maka negara tidak boleh tinggal diam dan menganggapnya sebagai persoalan administratif biasa,” kata Charles kepada wartawan, Jumat (12/06/26).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam pengelolaan program yang selama ini menyedot anggaran sangat besar dari APBN.
Legislator PDIP itu juga menegaskan momentum libur sekolah harus dimanfaatkan pemerintah untuk menghentikan sementara pelaksanaan MBG dan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh sistem yang berjalan.
“Libur sekolah adalah waktu yang tepat untuk melakukan moratorium sementara pelaksanaan program MBG. Pemerintah harus berani melakukan evaluasi total, bukan sekadar tambal sulam atau perbaikan kosmetik. Semua aspek harus dibedah secara menyeluruh agar publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” tegasnya.
Ia menilai evaluasi tidak boleh hanya berfokus pada jumlah penerima manfaat atau capaian penyerapan anggaran, melainkan harus menyentuh kualitas pelaksanaan program di lapangan.
Komisi IX DPR meminta pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh dapur SPPG yang saat ini beroperasi di berbagai daerah.
“Audit harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari keamanan pangan, kualitas makanan, efektivitas penggunaan anggaran, hingga proses pengadaan dan penunjukan pengelola dapur. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Semua harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tingginya kasus keracunan yang terjadi selama pelaksanaan program MBG. Menurutnya, keselamatan anak-anak tidak boleh dikorbankan demi mengejar target kuantitas program.
“Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa lebih dari 40 ribu anak telah menjadi korban keracunan makanan dalam pelaksanaan program ini. Ini bukan angka kecil. Ini menyangkut keselamatan generasi bangsa. Dapur-dapur yang terbukti bermasalah tidak cukup hanya diberi teguran. Jika berulang kali menyebabkan insiden, harus ditutup permanen,” katanya dikutip detak24com.
Pemerintah agar tidak terjebak pada pencitraan angka-angka besar tanpa memastikan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.
“Keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari berapa juta penerima manfaat atau berapa triliun anggaran yang dihabiskan. Yang lebih penting adalah apakah program ini benar-benar memperbaiki status gizi anak-anak Indonesia dan dijalankan secara aman serta akuntabel,” ujarnya.
Charles menegaskan pemerintah harus menjadikan masa libur sekolah sebagai momentum pembenahan besar-besaran agar program MBG tidak terus dibayangi persoalan yang berulang.
“Jangan sampai ambisi mengejar target kuantitas justru mengorbankan kualitas pelayanan, keamanan pangan, dan akuntabilitas penggunaan uang rakyat. Program yang baik adalah program yang memberikan manfaat nyata, bukan sekadar menghasilkan angka yang terlihat besar di atas kertas,” pungkasnya seperti diwartakan detikcom. (*)
Editor : Kar











