Krisis Air Bersih Ancam Bengkalis, Waduk PDAM Tirta Terubuk Nyaris Kering
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kondisi air waduk Perumda Tirta Terubuk Bengkalis nyaris kering. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BENGKALIS, detak24com – Dampak musim panas sejak Januari 2026 membuat kondisi air baku di waduk Perumda Tirta Terubuk mengalami penurunan drastis, baik dari sisi volume maupun kualitas.
Tingkat kekeruhan air bahkan melonjak tajam hingga mencapai 1600 NTU (Nephelometric Turbidity Unit), jauh di atas ambang batas normal yang hanya berkisar 100 NTU.
Dirut Perumda Tirta Terubuk Bengkalis Abel Iqbal, mengungkapkan kondisi tersebut sangat menyulitkan dalam proses pengolahan air bersih. Terutama dengan teknologi yang biasa digunakan.
“Kekeruhan air saat ini mencapai 1600 NTU. Dengan kondisi seperti ini, pengolahan menggunakan nano filter tidak bisa dilakukan karena berisiko merusak peralatan,” ujarnya, Sabtu (28/03/26).
Sebagai langkah darurat, Perumda terpaksa beralih ke metode pengolahan konvensional. Namun, metode ini juga menghadapi kendala serius karena tingginya tingkat kekeruhan air baku.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, kebutuhan bahan kimia meningkat drastis. Dalam sehari, Perumda membutuhkan sekitar 1,2 ton alum dan 800 kilogram soda. Padahal, dalam kondisi normal, kebutuhan hanya sekitar 500 kilogram alum dan 300 kilogram soda.
“Biaya operasional meningkat signifikan, tapi kami tetap berupaya maksimal agar distribusi air ke masyarakat tetap berjalan,” jelas Abel.
Meski demikian, ia mengakui kualitas air yang didistribusikan saat ini tidak sebaik saat menggunakan teknologi nano filter. Pihaknya pun menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas kondisi tersebut.
“Kami mohon maaf jika air yang diterima masyarakat tidak seperti biasanya,” ucapnya.
Kondisi waduk di Bengkalis saat ini juga disebut sangat memprihatinkan. Dua waduk utama, baik yang dibangun melalui APBD maupun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS), mengalami kekeringan akibat minimnya pasokan air.
“Parit-parit sudah menyusut karena tidak adanya hujan dalam beberapa bulan terakhir, sehingga air yang masuk ke waduk sangat sedikit,” terangnya.
Krisis serupa, lanjut Abel, juga terjadi di sejumlah daerah lain di Provinsi Kepulauan Riau seperti Tanjungpinang dan Tanjung Balai Karimun, bahkan ada yang terpaksa menghentikan operasional.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau tahun ini datang lebih awal dan diperkirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Sebagai upaya penanganan, Perumda bersama Pemerintah Daerah telah mengusulkan alternatif sumber air, termasuk rencana menarik air dari kanal PT Meskom Utama serta pembangunan pintu air untuk menahan aliran agar tidak langsung terbuang ke laut.
Selain itu, Perumda juga tengah mempertimbangkan penerapan jadwal distribusi air kepada masyarakat guna mengantisipasi krisis yang semakin memburuk.
“Kami akan sampaikan jadwal distribusi agar masyarakat bisa menampung air dan menggunakannya secara hemat, karena kondisi saat ini sudah sangat kritis,” tegasnya.
Saat ini, wilayah yang paling terdampak berada di Bengkalis dan Bantan. Sementara Siak Kecil dan Bukit Batu masih relatif aman karena pasokan air sungai mencukupi. Wilayah Mandau juga masih terbantu kerja sama dengan Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Perumda Tirta Terubuk Bengkalis memastikan akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik di tengah keterbatasan yang ada.
“Kami akan terus berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan dan ketersediaan air,” pungkasnya diikutip dari cakaplah. (*)
Editor : Kar











