PUTRA Mahkota di Balik Proyek Payung Elektrik Rp 42 M Masjid An-nur, Ternyata Ini Orangnya!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 15 Jul 2023
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PEKANBARU, detak24com – Nama putra mahkota muncul pasca kasus payung elektrik Masjid An-Nur Pekanbaru. Akibat proyek Rp 42 miliar tersebut, masjid tak bisa digunakan untuk salat Idul di Adha.
Ternyata, putra mahkota yang dimaksud, yakni anak Gubernur Riau Syamsuar bernama Andri. Ia disebut-sebut menerima suap terkait proyek pembangunan payung elektrik di Masjid Raya An-Nur Pekanbaru.
Informasi diterima detikSumut, nama Andri kerap diisukan terlibat pada proyek payung elektrik. Hal itu yang disebut jadi penyebab proyek tak tuntas dan kerap bermasalah.
Terkait kabar tersebut, Gubernur Syamsuar merespon dengan santai. Ia mengaku telah meninjau langsung proyek yang kini sudah tuntas.
“Tinjauan terbaru sudah siap ya. Insyallah tanggal 20 kita akan merayakan peringatan hari 1 Muharram, itu kemarin meninjau dalam rangka untuk mempersiapkan peringatan 1 Muharram di sana, kalau tidak salah itu Kamis malam,” terang Syamsuar kepada wartawan di Balai Serindit setelah pertemuan bersama Komisi V DPR, Jumat (14/7/2023).
Dalam peringatan 1 Muharram, Syamsuar mengaku telah mengundang Ustaz Adi Hidayat. Nantinya, Ustaz Adi Hidayat akan mengisi acara dengan kondisi payung telah tuntas. “Kita sudah undang ustaz dari Jakarta yaitu Ustaz Adi Hidayat,” kata Syamsuar.
Khusus informasi putranya menerima suap, Syamsuar enggan meluruskan kabar yang beredar. Namun secara tegas, ia pastikan tidak ada terlibat, begitupun putranya.
“Ya, itukan tidak mungkin saya meluruskan. Yang penting saya tak berbuat, anak saya tidak berbuat. Payung sudah siap, biarlah,” kata Syamsuar.
Diketahui, renovasi dan pembuatan payung elektrik Masjid An-Nur Pekanbaru, Riau tak kunjung tuntas. Padahal, proyek itu sesuai kontrak harus selesai pada akhir Desember 2022 lalu.
Proyek senilai Rp 42 miliar itu bahkan telah menuai pro kontra masyarakat. Mulai dari perpanjangan kontrak berulang kali, tidak jadi digunakan solat Idul Fitri hingga solat Idul Adha.
Terakhir, proyek itu jadi tanda tanya karena dikerjakan diam-diam setelah kontraknya diputus pada 8 April lalu. Belakangan baru diketahui jika proyek dikerjakan kontraktor yakni PT Bersinar Jesstive Mandiri.
“Kemarin kami konsultasi ke LKPP terkait pekerjaan yang sudah diputuskan kontrak, bolehkan kontraktor bekerja. Kemarin kami sudah dapat jawaban ‘diperbolehkan karena alasan kebutuhan dan kemanfaatan boleh’,” kata Kepala Dinas PUPR Riau, Arief Setiawan akhir Mei lalu.
Setelah dapat persetujuan secara lisan dan tertulis, Arief langsung minta kontraktor melanjutkan proyek. Khususnya di bagian payung elektrik yang ditargetkan selesai dan bisa digunakan untuk solat Idul Adha.
“Jadi saya memerintahkan kontraktor melanjutkan tanpa dibayar. Posisinya tinggal stel-stel saja. Kan ada rencana cepat karena mau Idul Adha diusahakan (bisa digunakan). Namun kemarin sudah ditinjau terakhir payung ini masih perlu penyetelan di 2 patung, ya batallah untuk Idul Adha,” kata Arief.
Mendekati waktu pelaksanaan, Arief pun minta Dinas PUPR ikut membersihkan. Namun lokasi yang rencana bisa dipakai solat Idul Adha batal karena tidak kunjung tuntas.
“Menghadapi Idul Adha, PU hanya membantu bersihkan. Saya berusaha ini bisa diselesaikan, dipake, tapi karena kan teman-teman kerja siang malam, hujan ya belum bisa dipake,” katanya.
Pengerjaan sendiri menurut Arief setelah seluruh bahan dan material sudah tiba di Pekanbaru. Khusus untuk payung saat ini butuh waktu karena harus disesuaikan di lapangan.
“Payung saja (dikerjakan), payung itu sudah ada material, tapi butuh waktu setel sana-sini biar rapi. Ya perlu waktu lama, kalau kejar untuk Idul Adha sudahlah saya sampaikan belum bisa dipake,” katanya, seperti yang dilansir dari detik. (Halloriau)
Editor : Kar
Terimakasih telah mengunjungi website kami. Ikuti kami terus di https://detak24.com











