Iran Bombardir Pangkalan Militer AS di Bahrain dan Kuwait
- account_circle Redaksi
- calendar_month 5 menit yang lalu
- print Cetak

Pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait jadi target serangan balasan Iran. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TEHERAN, detak24com – Iran kembali melancarkan serangan terhadap aset strategis dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Bahrain pada Jumat (31/7/2026) waktu setempat.
Menurut media pemerintah Iran, serangan drone nirawak menargetkan tempat perlindungan pesawat, sistem komunikasi satelit, serta fasilitas penyimpanan peralatan militer AS di Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber, Kuwait.
Sebelumnya, pada Rabu (29/7/2026), militer AS menyelesaikan gelombang serangan besar-besaran terhadap Iran yang disebut menghantam puluhan target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di berbagai wilayah negara tersebut.
Rangkaian aksi saling serang itu kembali meningkatkan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada saat yang sama, serangan pesawat nirawak terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah juga semakin meluas.
Pemerintah Mesir pada Kamis (30/7/2026) melaporkan sebuah drone menghantam dua kapal di Pelabuhan Damietta di Laut Mediterania hingga memicu kebakaran. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut, yang menjadi serangan pertama di wilayah Mesir sejak perang antara AS dan Iran pecah pada akhir Februari.
Analis Timur Tengah dan Afrika Utara Verisk Maplecroft, Hamish Kinnear, mengatakan serangan drone di Mesir menunjukkan konflik mulai meluas ke wilayah-wilayah strategis yang sebelumnya relatif aman, termasuk kawasan sekitar Terusan Suez.
“Meluasnya jangkauan geografis serangan drone dan rudal terhadap pelayaran tahun ini yang meliputi Laut Kaspia, Laut Hitam, Laut Mediterania, Laut Merah, Teluk Persia, dan Samudra Hindia menandai era baru risiko maritim,” ujar Kinnear dikutip dari CNBC.
Ia menambahkan perkembangan teknologi serta strategi penargetan yang berkembang dari konflik di Ukraina dan Timur Tengah telah memperbesar ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.
Di tengah meningkatnya ketegangan, harga minyak dunia kembali menguat setelah kantor berita Fars melaporkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menghentikan dua kapal tanker yang hendak melintasi Selat Hormuz. Media tersebut juga menyebut empat kapal tanker lainnya mengubah rute, meski informasi itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik menjadi sekitar US$ 89,53 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat ke kisaran US$ 84,04 barel.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan ingin Kongres memasukkan tarif terhadap Iran ke dalam rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia dan Iran. Meski demikian, langkah tersebut diperkirakan tidak akan berdampak besar terhadap perdagangan karena nilai impor AS dari Iran relatif kecil. (*)
Editor : Kar












