Ratusan Guru dan Siswa Keracunan MBG di Semarang, Dapur SPPG Dihentikan
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Siswa keracunan MBG dirawat intensif. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SEMARANG, detak24com – Kasus keracunan MBG kembali terjadi. Sebanyak 693 siswa dan 14 guru di SMKN 6 Semarang dilaporkan mengalami gejala diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari program tersebut.
Dikutip dari Ayojogjakarta, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi Semarang sebagai penyedia makanan resmi dihentikan sementara menyusul insiden keracunan MBG tersebut.
Koordinator Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang Hadi Riajaya, mengatakan bahwa penghentian sementara operasional dilakukan sebagai bentuk komitmen dalam mengutamakan keselamatan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.
Menurutnya, proses investigasi melibatkan sejumlah instansi, di antaranya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Polrestabes Semarang, serta Badan Gizi Nasional (BGN).
“Dapur kami suspend sementara. Bagi kami di BGN, keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama,” ujar Hadi, Ahad (02/08/26).
Alami Gangguan Pencernaan
Berdasarkan laporan awal, para siswa dan guru mengalami berbagai gejala gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, dan diare.
Pihak SPPG menerima laporan pertama mengenai dugaan keracunan tersebut pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 09.40 WIB.
Sejumlah siswa dilaporkan harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas, sementara sebagian lainnya dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lebih lanjut.
Hingga kini, penyebab pasti insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan. Pemerintah bersama instansi terkait tengah melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan serta menelusuri seluruh proses penyajian makanan guna memastikan sumber permasalahan.
Selama proses investigasi berlangsung, operasional dapur SPPG Karangturi Semarang tetap dihentikan sementara hingga hasil pemeriksaan selesai dan dinyatakan aman untuk kembali beroperasi. (*)
Editor : kar












