Harimau Sumatera Teror Kampung Mengkapan Siak, Muncul Dua Kali Sehari
- account_circle Redaksi
- calendar_month 18 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SIAK, detak24com – Laporan kemunculan harimau sumatera di Kampung Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak menjadi perhatian serius setelah satwa dilindungi tersebut disebut terlihat dua kali dalam sehari pada Sabtu (18/07/26).
Informasi itu kini tengah ditindaklanjuti oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siak melalui proses verifikasi lapangan.
Meski hingga Ahad (19/07/26) belum menerima laporan resmi, kedua instansi memastikan informasi dari masyarakat tetap menjadi dasar untuk melakukan pengecekan guna memastikan keberadaan satwa yang berstatus kritis tersebut.
Kabid Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisuddin, mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan petugas di wilayah sebelum mengambil langkah lanjutan.
“Terkait hal ini kami tanyakan ke teman-teman bidang wilayah dulu ya,” ujar Ujang.
Pernyataan serupa disampaikan Kepala Seksi KSDA Wilayah II Siak Hermanto.
Ia mengaku belum memperoleh laporan resmi mengenai dugaan kemunculan Harimau Sumatera di Kampung Mengkapan.
“Akan kami cek ke lapangan dulu (kemunculan Harimau Sumatera),” katanya.
Di sisi lain, Kalaksa BPBD Siak Novendra Kasmara, menyebut bahwa hingga kini pihaknya juga belum menerima laporan resmi baik dari masyarakat maupun melalui koordinasi lintas instansi.
Namun demikian, menurutnya informasi tersebut tetap menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan keselamatan warga yang beraktivitas di sekitar kawasan perkebunan dan hutan.
“Tapi tetap saja informasi ini menjadi dasar bagi kami untuk mengecek ke lapangan lebih jauh,” imbuh dia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, penampakan pertama terjadi sekitar pukul 12.00 WIB di Jalan Nasional KM 4 Kampung Mengkapan.
Seorang warga bernama Dodi mengaku melihat langsung seekor Harimau Sumatera melintas di ruas jalan tersebut.
“Saya melihat dari kejauhan seekor harimau sumatera melintas di Jalan Nasional KM 4 Kampung Mengkapan sekitar pukul 12 siang,” ungkapnya.
Beberapa kilometer dari lokasi pertama, tepatnya di kawasan KM 7, pengalaman lebih mencekam dialami Agus, pekerja panen kelapa sawit asal Kabupaten Kepulauan Meranti.
Saat melangsir tandan buah segar menggunakan sepeda motor, Agus mengaku seekor harimau tiba-tiba keluar dari kawasan kebun dan bergerak mendekatinya.
Dalam kondisi panik, ia langsung memacu sepeda motornya untuk menyelamatkan diri.
“Saya kaget, langsung berteriak dan menarik gas motor sekuatnya supaya bisa menjauh. Setelah aman saya menghubungi teman-teman yang masih bekerja di kebun. Syukur saya masih selamat, tetapi sampai sekarang masih trauma,” tuturnya.
Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi Agus. Ia bahkan memutuskan menghentikan pekerjaannya di perkebunan sawit dan kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Kepulauan Meranti karena mengaku tidak lagi berani bekerja di lokasi tersebut.
Ketua RT 009 Kampung Mengkapan, Mustopa, menyebut kemunculan Harimau Sumatera bukan merupakan kejadian pertama di wilayahnya.
Menurutnya, masyarakat telah beberapa kali melaporkan penampakan satwa tersebut kepada pemerintah kampung, Bhabinkamtibmas, hingga BPBD Kabupaten Siak.
Ia berharap pemerintah bersama instansi terkait segera melakukan langkah mitigasi agar konflik antara manusia dan satwa liar tidak menimbulkan korban.
“Harimau ini sering muncul di sekitar kebun warga. Kami berharap ada tindakan cepat dari pihak berwenang sebelum jatuh korban,” ujar Mustopa.
“Harimau memang satwa yang dilindungi, tetapi masyarakat juga harus mendapat perlindungan saat mencari nafkah,” sambungnya.
Kemunculan Harimau Sumatera di Kampung Mengkapan kembali menambah catatan konflik manusia dan satwa liar di Kabupaten Siak.
Dalam rentang 2024 hingga pertengahan 2026, sejumlah wilayah penyangga hutan di daerah tersebut beberapa kali melaporkan penampakan Harimau Sumatera, mulai dari gangguan terhadap ternak hingga insiden yang melibatkan manusia, seperti diwartakan tribunpekanbaru. (*)
Editor : kar











