DETAK24COM

Cepat Lugas dan Akurat

Terburuk Sepanjang Sejarah, Rupiah Tergerus ke Level Rp 17.966 per Dolar AS

Ilustrasi. f : ist

JAKARTA, detak24com – Nilai tukar rupiah kembali harus mengakui kedigdayaan dolar AS. Pada perdagangan Rabu (03/06/26) petang, ditutup melemah 127,5 poin atau sebesar 0,71 persen ke level Rp 17.966 per USD.

Angka ini sekaligus mencatatkan rekor sebagai level terburuk rupiah sepanjang sejarah terhadap mata uang greenback. Kini, pasar terus mengawasi pergerakan rupiah yang semakin mendekati level psikologis baru di angka Rp 18.000 per dolar AS.

Tekanan Global dan Domestik

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan ini bukan lagi sekadar fluktuasi musiman. Pasar kini melihat adanya tekanan ganda yang menghimpit nilai tukar domestik, baik dari sisi eksternal maupun internal.

“Sentimen global yang dominan masih berasal dari ketidakpastian konflik AS-Iran, risiko pasokan energi melalui Selat Hormuz, harga minyak yang tetap tinggi, hingga permintaan dolar AS sebagai aset aman (safe haven),” ujar Josua di Jakarta, Rabu (03/06/26).

Di sisi lain, bantalan neraca perdagangan Indonesia yang kian menipis turut memperparah tekanan pada rupiah. Data menunjukkan surplus perdagangan April 2026 merosot tajam menjadi hanya sekitar US$ 90 juta, jauh di bawah capaian Maret yang sebesar US$ 3,32 miliar.

“Artinya, pasokan dolar dari perdagangan barang kini jauh lebih tipis. Kebutuhan dolar untuk impor bahan baku, energi, dan barang modal melonjak, sementara tambahan dolar dari ekspor tidak lagi cukup kuat untuk menyeimbangkan pasar,” paparnya.

Tiga Syarat Bisa Kembali Menguat

Meski dihantam berbagai sentimen negatif, Josua menilai peluang penguatan rupiah masih tetap ada, walau sifatnya terbatas atau lebih kepada stabilisasi bertahap. Menurutnya, rupiah memiliki kans kembali ke kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.750 per dolar AS, namun dengan syarat yang tidak ringan.

“Rupiah bisa kembali menguat jika ada tiga syarat terpenuhi. Pertama, harga minyak dunia turun signifikan seiring kemajuan perdamaian AS-Iran. Kedua, arus modal asing kembali masuk ke SBN dan SRBI. Ketiga, adanya sinyal fiskal dari pemerintah yang lebih meyakinkan pasar,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan risiko sebaliknya. Jika harga minyak kembali melambung akibat kebuntuan diplomasi dan investor masih meragukan kondisi fiskal serta neraca eksternal, bukan mustahil rupiah akan terperangkap di rentang Rp 17.800 sampai Rp 18.000.

Kebijakan Moneter Global

Senada dengan Josua, Ekonom UOB Kay Hian, Surya Wijaksana, menyoroti penipisan surplus perdagangan sebagai sinyal pemburukan defisit transaksi berjalan di masa depan. Meskipun ada peluang penguatan, ia mengingatkan adanya ancaman dari kebijakan moneter global yang cenderung hawkish.

“Risikonya datang dari kebijakan moneter global yang lebih hawkish. Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga, begitu pula The Fed yang semakin agresif,” ungkap Surya.

Saat ini, rupiah mencatatkan kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2024. Pasar kini menunggu bukti nyata perbaikan fundamental ekonomi Indonesia, bukan sekadar pernyataan optimistis dari para pengambil kebijakan, seperti dikutip dari inilah.com. (*)

Editor : Kar