HIKMAH : Rindu Suara Adzan, Mualaf Dusun Keridi Kepulauan Meranti Tak Tersentuh Syiar Islam
“Kalau dulu dikampung kami pernah juga orang membagikan Al-Qur’an, tapi rata-rata orang kampung kami tidak bisa baca Al-Qur’an, jadi macam tak berguna pak ustadz,” kata anak tersebut.
“Sekali lagi kami tertampar dengan ucapan anak ini, malu kami sebagai manusia yang mengaku sebagai pengemban dakwah tapi ada suatu desa yang sangat membutuhkan dakwah dan kami tidak tahu,” ucap Fefen.
Diceritakan lagi oleh Fefen, saat memberikan tausiyah agama, banyak anak yang terlihat seksama mendengarkan apa yang disampaikannya, tidak terkecuali siswa yang non muslim.
“Tausiyah kami laksanakan di kelas, anak yang ngobrol bersama saya tadi pun juga ada dan paling semangat dan khusyu mendengarkan kisah Isra mi’raj yang saya sampaikan. Di dalam kelas tersebut mayoritas adalah non muslim, dan yang membuat saya bahagia adalah saya dapat kesempatan mendakwahkan Islam kepada mereka,” ujar Fefen.
Menjelang tengah hari, Fefen bersama temannya pamit untuk kembali pulang dan itu harus disegerakan, mengingat air sungai akan surut dan kapal tidak akan bisa keluar.
“Sebelum siang kami harus segera pulang karena air di sungai akan surut. Karena jika air surut kapal tidak bisa keluar dan kami diharuskan menginap, sementara kami tidak ada persiapan untuk menginap,” tuturnya.
“Sebelum pulang saya berjanji kepada anak-anak dan warga di sana bahwa saya datang lagi dengan pasukan yang lebih banyak, ketika kami pulang ke kapal banyak dari anak-anak tadi yang ikut mengantarkan kami ke kapal,” tuturnya lagi.

14 thoughts on “HIKMAH : Rindu Suara Adzan, Mualaf Dusun Keridi Kepulauan Meranti Tak Tersentuh Syiar Islam”