Dapat Kecaman, Meta Matikan Fitur AI yang Akses Foto Publik
- account_circle Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Logo Meta. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DETAK24COM – Meta menghentikan salah satu fitur baru pada alat kecerdasan buatan atau artificial untelligence (AI) miliknya seusai menuai kritik terkait privasi pengguna Instagram.
Keputusan tersebut diambil kurang dari sepekan setelah perusahaan induk Facebook dan Instagram itu meluncurkan Muse Image, model pembuat gambar berbasis AI yang terintegrasi dengan asisten digital Meta AI.
Fitur yang menjadi sorotan memungkinkan Muse Image menggunakan foto dari akun Instagram publik sebagai referensi untuk menghasilkan gambar AI baru.
Penggunaan konten tersebut dapat dilakukan secara otomatis, sehingga memicu kekhawatiran mengenai privasi dan penggunaan identitas digital tanpa persetujuan langsung dari pemilik akun.
Dalam pernyataannya, Meta mengakui fitur tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
“Kami bermaksud menghadirkan alat kreatif yang bermanfaat, sekaligus memberikan kontrol kepada pengguna atas apakah konten publik mereka dapat dijadikan referensi. Namun, kami telah mendengar berbagai masukan bahwa fitur ini tidak tepat, sehingga kini sudah tidak tersedia lagi,” ujar Meta, dikutip dari AP, Ahad (12/7/2026).
Picu Kekhawatiran Privasi
Kontroversi muncul seusai banyak pengguna media sosial menyadari foto yang diunggah ke akun Instagram publik dapat digunakan oleh sistem AI Meta untuk membantu membuat gambar baru.
Kondisi tersebut memicu gelombang kritik dan kekhawatiran mengenai perlindungan data pribadi, hak atas citra diri, serta potensi penyalahgunaan teknologi AI generatif.
Sejumlah unggahan di media sosial bahkan berisi panduan bagi pengguna Instagram untuk menonaktifkan akses akun mereka dari fitur tersebut.
Kekhawatiran juga datang dari kalangan industri hiburan. Serikat pekerja Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) meminta para anggotanya mengubah pengaturan akun Instagram guna melindungi identitas dan kemiripan wajah mereka dari penggunaan oleh sistem AI.
Seusai Meta memutuskan menghentikan fitur tersebut, SAG-AFTRA menyambut baik langkah perusahaan teknologi tersebut.
Direktur Eksekutif sekaligus Chief Strategy Officer National Center on Sexual Exploitation, Haley McNamara, menilai fitur tersebut berisiko digunakan untuk berbagai tindakan penyalahgunaan, termasuk pembuatan konten seksual palsu dan penipuan daring.
Menurutnya, kebijakan yang mengharuskan pengguna mencari dan mengaktifkan sendiri opsi penolakan justru membebankan tanggung jawab kepada korban potensial.
“Fitur ini tidak hanya mengikis hak seseorang atas citra dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi alat bagi pelaku sextortion dan berbagai bentuk penipuan lainnya,” pungkas McNamara, dikutip dari The Verge. (*)
Editor : Kar











