Gunawan SH: Bukan Sekadar Ijazah, Pendidikan Membentuk Manusia Cerdas, Berakhlak dan Bermanfaat
- account_circle Yusrizal Sikumbang
- calendar_month 26 menit yang lalu
- print Cetak

Gunawan SH, Ketua PSMTI Mandau . f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DURI, detak24.com – Pendidikan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar mengikuti proses belajar di sekolah, memperoleh nilai akademik maupun mendapatkan ijazah.
Sejatinya, pendidikan merupakan proses membentuk manusia seutuhnya agar memiliki kecerdasan, akhlak, tanggung jawab dan kemampuan untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Pandangan tersebut disampaikan Gunawan SH, alumni Lemhannas RI 2023 sekaligus Ketua PSMTI Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas manusia sekaligus menentukan masa depan sebuah bangsa.
“Pendidikan bukan sekadar masuk sekolah, bukan sekadar mendapat ijazah, dan bukan sekadar pintar berhitung atau membaca. Pendidikan adalah proses membangun manusia seutuhnya, yang tidak hanya cerdas di kepala, tetapi juga baik di hati, lurus dalam akhlak dan kuat dalam tanggung jawab,” ujar Gunawan, Kamis (10/09/26).
Ia menilai, ijazah pada dasarnya hanyalah bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Namun, nilai pendidikan yang sesungguhnya tercermin dari pengetahuan, karakter, sikap dan kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan.
“Ijazah adalah kertas. Kertas bisa hilang, terbakar atau rusak. Tetapi apa yang tertanam di dalam hati, pikiran dan karakter seseorang akan menjadi bekal sepanjang hidup. Itulah pendidikan yang sesungguhnya,” katanya.
Tiga Pilar Pendidikan
Gunawan menjelaskan, pendidikan yang ideal setidaknya memiliki tiga pilar penting, yakni pendidikan akal, pendidikan hati dan pendidikan keterampilan.
Pertama, pendidikan akal bertujuan membangun kecerdasan dan kemampuan berpikir. Dengan pendidikan akal, seseorang diharapkan mampu membedakan antara yang benar dan salah, yang baik dan buruk, serta mampu berpikir kritis, mandiri dan bijaksana.
“Orang yang berpendidikan akal tidak mudah diperbudak oleh kebodohan maupun oleh kebohongan,” tegasnya.
Kedua, pendidikan hati, yang menurutnya tidak kalah penting. Pendidikan harus mampu menumbuhkan kasih sayang, rasa hormat, tanggung jawab, kepedulian serta kesadaran untuk menjauhi perbuatan yang salah.
Sebab, menurut Gunawan, kecerdasan tanpa moral dan kebaikan dapat menjadi sesuatu yang berbahaya.
“Banyak orang pintar tetapi berbuat jahat. Artinya, pendidikannya belum sempurna. Kecerdasan tanpa kebaikan adalah pedang tajam di tangan orang yang buta arah,” ujarnya.
Ketiga, pendidikan keterampilan, yakni kemampuan mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang yang mengetahui banyak hal, tetapi juga harus melahirkan manusia yang mampu bekerja, berkarya dan memberikan manfaat.
“Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan benih yang tidak ditanam. Pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan kita bagaimana hidup, tetapi juga mengajarkan kita bagaimana memberi alasan untuk hidup dengan menjadi manusia yang bermanfaat,” ungkapnya.
Pendidikan Fondasi Kemajuan Bangsa
Lebih jauh Gunawan mengatakan, pendidikan merupakan salah satu fondasi terpenting bagi kemajuan Indonesia. Menurutnya, ukuran kemajuan suatu bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, kekuatan ekonomi maupun teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya.
Bangsa yang memiliki masyarakat terdidik, berakhlak dan bertanggung jawab akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan serta tidak mudah dipecah belah.
“Pendidikan membebaskan manusia dari kemiskinan, bukan hanya karena pendidikan membuka kesempatan mendapatkan pekerjaan, tetapi juga karena orang yang terdidik memiliki kemampuan untuk mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan,” jelasnya.
Selain itu, pendidikan juga berperan penting dalam memperkuat persatuan. Masyarakat yang memiliki wawasan dan pemahaman yang baik akan lebih mampu menghargai perbedaan, menghormati sesama serta mengutamakan kepentingan bersama.
Pendidikan juga menjadi instrumen penting dalam menjaga keadilan. Masyarakat yang terdidik akan lebih memahami hak dan kewajibannya serta tidak mudah dipengaruhi informasi yang menyesatkan.
“Rakyat yang terdidik tidak mudah dibohongi dan tidak mudah diam ketika melihat ketidakadilan,” katanya.
Pendidikan Tidak Berhenti di Sekolah
Gunawan menegaskan, pendidikan tidak seharusnya dipahami sebagai proses yang hanya berlangsung di ruang kelas. Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat.
Menurutnya, seseorang tetap harus belajar meskipun telah menyelesaikan pendidikan formal dan memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
“Pendidikan tidak berhenti di sekolah. Pendidikan tidak berhenti setelah lulus. Pendidikan juga tidak berhenti pada usia 20, 30 atau 50 tahun,” tuturnya.
Ia menggambarkan kehidupan sebagai sekolah yang sesungguhnya, sementara pengalaman menjadi salah satu guru terbaik yang dapat membentuk kedewasaan seseorang.
“Selama kita masih bernapas, kita masih harus belajar. Selama masih hidup, kita masih harus memperbaiki diri. Selama masih berdiri, kita masih harus menambah ilmu,” tambahnya.
Karena itu, Gunawan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan ilmu bukan sekadar sesuatu yang dibanggakan atau dipamerkan, melainkan sesuatu yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, tujuan akhir pendidikan bukanlah menjadikan seseorang sebagai manusia yang merasa paling tahu, melainkan manusia yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat dan bangsa.
“Karena pendidikan bukanlah tentang menjadi orang yang paling tahu, tetapi tentang menjadi orang yang paling bermanfaat,” pungkas Gunawan.(*)
- Penulis: Yusrizal Sikumbang













