Empat Sindikat Malaysia Terciduk, Polisi Sita 55 Kilo Narkotika di Kepulauan Meranti
Konferensi pers penangkapan empat tersangka narkotika sindikat Malaysia di Mapolres Kepulauan Meranti. f : ist
SELATPANJANG, detak24com – Empat anggota sindikat Malaysia terciduk di Kepulauan Meranti dan Pandeglang. Dari para tersangka, polisi menyita sekitar 55 kilogram narkotika.
Polres Kepulauan Meranti mencatat tangkapan narkoba terbesar sejak terbentuk. Tak main-main, sabu yang diamankan mencapai berat 30,713 kilogram, serta happy water sebanyak 24,302 kg.
Selain narkotika, juga diamankan catridge merk Popeye sebanyak 745 pcs dan 289 pcs catridge berbagai warna. Catridge warna pink sebanyak 95 pcs, hijau 97 dan ungu 97.
Informasi disampaikan Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi, dari kasus puluhan kilogram narkoba ini, polisi membekuk empat tersangka jaringan Malaysia. Terdiri dari 3 laki-laki warga Kepulauan Meranti dan seorang perempuan asal Pandeglang, Banten.
Menurut Kapolres, penangkapan berawal dari informasi warga yang mereka terima tanggal 26 September 2025. Atas dasar informasi itu, dia memerintahkan Kapolsek Merbau segera berkoordinasi dengan Sat Res Narkoba untuk melakukan penyelidikan.
Pada Selasa (30/09/25) dinihari sekitar pukul 01.30 WIB, polisi berhasil menangkap seorang terduga pelaku di Belitung, Merbau berinisial N. Sementara, tiga lainnya kabur dan dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO).
“Pada hari terakhir operasi antik, kami berhasil menangkap pelaku, pukul 01.30 WIB,” kata Kapolres saat konferensi pers, Kamis (09/10/25).
Hasil pengembangan di lapangan, polisi kembali berhasil membekuk 2 terduga pelaku lainnya berinisial J dan Y.
Tak berhenti di situ, polisi terus melakukan pengembangan. Hingga akhirnya, seorang terduga pelaku yang merupakan warga Pandeglang Banten pun ikut diciduk dari kasus ini. Dia merupakan seorang perempuan, berinisial T.
Dijelaskannya, tersangka N berperan sebagai koordinator wilayah darat, J kurir darat, Y melakukan mapping wilayah yang akan dilalui saat membawa narkoba. Sedangkan T yang merupakan perempuan warga Pandeglang merupakan pengendali masuknya narkoba.
“Narkoba ini dibawa dari negara tetangga,” beber Kapolres.
Dari penangkapan, ini polisi mengamankan BB berupa 2 unit sepeda motor (Vario dan Nmax), 30,713 kg sabu, 24,302 kg narkotika jenis happy water, catridge merk Popeye sebanyak 745 pcs dan 289 pcs catridge berbagai warna. Catridge warna pink sebanyak 95 pcs, hijau 97 dan ungu 97. Hp yang digunakan pelaku untuk beraksi, tas dan karung goni yang digunakan saat membawa sabu.
Sementara, Waka Polda Riau, Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo mengapresiasi keberhasilan Polres Kepulauan Meranti dan jajaran yang berhasil menggagalkan peredaran narkoba puluhan kilogram tersebut.
“Suatu kehormatan saya bisa berdiri di depan tim ini, luar biasa. Semoga berkah. Keberhasilan ini bukti nyata dari kerjasama banyak pihak. Ini kerja tim, tidak bisa hebat sendiri,” sebut dia.
Kepada anggota, ia berpesan dalam penindakan kasus narkoba, jika terduga pelaku kooperatif saat ditangkap, polisi juga harus kooperatif. Tapi, jika pelaku melawan dan membahayakan petugas, dia memerintahkan untuk langsung ditembak mati saja.
“Kalau mengganggu dan membahayakan saat diamankan, tembak mati saja. Saya tanggungjawab, tembak mati, sesuai SOP,” tegasnya.
Selain itu, Wakapolda berjanji akan menyiapkan reward bagi anggota yang berhasil mengungkap dan menggagalkan peredaran narkoba jaringan internasional ini.
“Pesan saya, dalam bertugas jangan sombong, jangan under estimate dan minta doa dari keluarga,” ingatnya.
Sementara itu, apresiasi serupa juga disampaikan Kepala BNNP Riau, Brigjen Pol Christ Reinhard Pusung. Ini pengungkapan kasus terbesar di Meranti sejak Polres berdiri. Menandakan bahwa aparat penegak hukum bekerjasama dengan baik ke semua pihak terkait dalam hal memberantas narkoba.
“Kami berikan apresiasi kepada seluruh APH dan semua pihak yang terlibat di lapangan,” tuturnya.
Ditambahkannya, jika narkoba yang diamankan itu lepas dan beredar di tengah masyarakat, bisa merusak 90 ribu hingga 100 ribu orang. Dimana, mayoritas penggunanya adalah generasi muda penerus bangsa.
“Peredaran narkoba masih jadi ancaman serius karena bisa merusak masyarakat. Keberhasilan ini telah menjaga generasi muda,” katanya.
Dia berharap, warga terus bekerjasama dengan APH dalam rangka memberantas peredaran narkoba. Saat ini sudah banyak pola baru yang digunakan pelaku narkoba untuk mengelabui petugas.
“Yang trend sekarang, masalah rokok elektronik atau vape. Telah ditemukan liquid yang isinya mengandung narkotika. Ini fokus APH untuk mempelajari dan memberantas masalah vape ini. Berhati-hati kalau menggunakan rokok elektrik vape,” ulasnya.
“Kami akan terus mencari dan mengejar serta memberantas narkotika ini. Kami tidak lelah, apalagi ini masuk Asta Cita Pak Presiden. Kami akan berikan tindak tegas dan hukuman yang seberat-beratnya kepada pelaku narkoba,” imbuh dia dikutip dari cakaplah. (Red)
Editor : kar
