Awas! Beras Oplosan Merek Happy Minang Beredar di Dumai, Polisi Sita 50 Ton Barang Bukti
Kapolres Dumai, AKBP Angga Herlambang mengecek beras oplosan merek Happy Minang. f : ist
DUMAI, detak24com – Polres Dumai mengungkap praktik kecurangan produksi dan peredaran beras oplosan di sebuah gudang di Kota Dumai. Produk tersebut bermerek Happy Minang.
Dari hasil penggerebekan, petugas mengamankan sebanyak 50 ton beras oplosan yang dikemas ulang pada sebuah gudang di Jalan Cempedak RT 2, Kelurahan Rimba Sekampung.
Kapolres Dumai, AKBP Angga S Herlambang menjelaskan, bahwa pengungkapan kasus ini dilakukan pada 2 Agustus 2025 lalu, berawal dari laporan masyarakat.
Tersangka berinisial YI (40), seorang perempuan yang berdomisili di Jalan Cempedak RT 2, Kelurahan Rimba Sekampung, berhasil diamankan beserta barang bukti.
“Modus yang digunakan adalah mencampur beras kualitas medium dengan beras premium, lalu mengemas ulang menggunakan merek terkenal Happy Minang. Aksi ini jelas merugikan masyarakat serta pedagang yang berjualan secara jujur,” ungkap Kapolres Dumai dalam konferensi pers baru-baru ini.
Selain puluhan ton beras oplosan siap edar, polisi juga menyita peralatan pengemasan serta sejumlah dokumen yang menguatkan dugaan tindak pidana.
Dalam pemeriksaan, tersangka mengakui telah melakukan praktik ini sejak tahun 2024. Total produksi mencapai 50 ton beras oplosan, dengan rincian 20 ton pada Juli 2024 dan 30 ton pada Agustus 2024.
Beras oplosan tersebut dijual seharga Rp 14.700 per kilogram, sementara modal per kilogram sekitar Rp 13.900. Untuk kemasan karung 25 kilogram, beras dijual Rp 367.500 di pasaran. Dengan demikian, pelaku meraup keuntungan sekitar Rp 400 per kilogram.
“Aktivitas ini dilakukan sesuai order dari konsumen. Seluruh beras oplosan diedarkan khusus di wilayah Dumai bagian perkotaan,” terang Kapolres.
Perbuatan tersangka terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara, sesuai UU Perlindungan Konsumen, seperti dikutip dari tvone.news.
Dengan pengungkapan kasus ini, masyarakat diingatkan lebih teliti membeli beras, serta dapat membedakan mana yang asli dan beras oplosan. (red)
Editor : Kar
