Aliansi Ulama Habaib Jatim Desak Holywings Surabaya Tutup Permanen
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 6 Jul 2022
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kami ingin Holywings ditutup permanen, bukan sifatnya sementara, jadi seterusnya Keberadaan mereka banyak mudaratnya daripada kebaikannya,” kata Korlap alumni PA 212 Lamongan, Muhammad Taufiq, di sela aksi.
“Mereka menghina nama Nabi Muhammad, mereka sudah benar-benar melecehkan. Bukan tanpa disengaja, itu satu kesengajaan karena nama Muhammad itu bukan suatu yang asing, karena terkenal dimana-mana,” ucapnya.
Pihaknya menilai, keberadaan Holywings di Jatim sudah tidak layak, karena lebih mengandung sisi negatif bagi lingkungan sekitar. Bahkan, mereka juga menyoroti permainan izin yang dilakukan Holywings.
“Kan sudah tahu muslim tidak boleh minum-minuman keras. Harusnya yang marah bukan cuma kami, di situ ada bunda Maria dan ini di agama Nasrani juga harusnya marah, cuman mungkin mereka nggak terbiasa dengan demo seperti ini, makanya kami mewakili,” sambungnya.
Mereka juga menegaskan, akan segera menggelar mediasi dengan DPR dan MPR tentang kegaduhan yang dilakukan Holywings dengan mencatut nama Muhammad dan Maria dalam promosi mirasnya.
Tak hanya itu, Massa juga sempat melakukan aksi demo di tengah Jalan Gubernur Suryo, hal itu membuat arus lalu lintas sempat tersendat. Namun tak lama massa sudah bergeser menepi ke Taman Apsari dan membuka akses jalan bagi para pengendara kendaraan bermotor.
Sementara itu, sejumlah personel kepolisian juga berjaga di depan Gedung Negara Grahadi. Kawat pagar berduri juga dipasang untuk pengamanan.
Ia bilang penambang yang menjadi korban longsor namun berhasil ditemukan selamat yakni Faisal (30) dan Rivaldi (20). Keduanya, kata dia, warga Dusun Pawae Tanah Goyang Desa Loki, Kecamatan Huamual, Seram Bagian Barat.
Sementara istri Abdul Rahman Samal berusia (58) warga asal Desa Kawa Kecamatan Seram Barat, dan seorang penambang bernama Vival (26) warga Dusun Ani, Desa Loki, Seram Bagian Barat ditemukan tewas tertimbun longsoran. Mereka, sambungnya,
“Mereka penambang ilegal Batu Sinabar di puncak Gunung Tembaga Desa Luhu Kecamatan Huamual, Seram Bagian Barat, Maluku,” ujar Serma Dulhamid saat dihubungi, Selasa, (5/7) sore.
Ia bercerita saat terjadi longsor, mereka penambang tengah berteduh di camp yang dibangun di puncak Gunung Tembaga kala hujan dengan instensitas tinggi mengguyur wilayah pegunungan tambang Batu Sinabar.
Tiba-tiba, kata dia tenda yang dibangun menggunakan terpal dan kayu itu ambruk diterjang longsor. Mereka sempat tertutupi material longsoran batu namun masih sempat berusaha untuk menyelamatkan diri.(CNN)











