Dua Daerah Keracunan MBG-Gubri Larang Siswa Ngeluh di Medsos, Ada Apa?
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
- print Cetak

Keracunan MBG di Tembilahan beberapa waktu lalu. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PEKANBARU, detak24com – Gubri Abdul Wahid meminta kepada masyarakat Riau agar tak mengeluhkan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di medsos. Ia menyarankan keluhan tersebut disalurkan ke SPPG.
“Saya juga meminta bahwa kalau ada komplain jangan dikomplain di medsos, tetapi disampaikan kepada pengurus MBG-nya,” ujar Gubri Wahid setelah menghadiri ranperda APBD tahun 2025 di DPRD Provinsi Riau, baru-baru ini.
Baca juga : Puluhan Murid SD Keracunan Makan Gratis, Pengelola MBG Tembilahan Minta Maaf!
Menurut Gubri Wahid, apabila keluhan disampaikan langsung kepada pihak panitia yaitu SPPG maka keluhan tersebut dapat langsung dicatat. Dirinya juga mengingatkan kepada guru sekolah yang langsung sebagai perpanjangan tangan untuk mencatat kekurangan-kekurangan dari program unggulan Presiden Prabowo tersebut.
“Saya bilang sama guru-guru dicatat, dimasukkan catatannya. Kadang-kadang komplain anak-anak ini soal rasanya enggak ada, kurang garam, cabe yang nggak ada, saya sudah bilang begitu,” katanya.
Pernyataan tersebut menyusul adanya kesalahan dalam penyediaan MBG di Bengkalis. Dimana di SDN 4 di Bengkalis mendapati makanan yang basi. Bahkan di salah satu MTSN mendapati makanan miliki belatung pada Senin (29/9/2025) lalu. Kejadian ini menambah rentetan buruk penyelenggaran MBG di Negeri Lancang Kuning.
Sebelumnya, dua kasus keracunan telah terjadi di Riau. Yaitu di Kabupaten Kampar dan Indragiri Hilir. Di SDN 006 Langgini, Bangkinang Kota, Kampar, 18 siswa mengalami mual dan muntah usai mengonsumsi nasi goreng dari program MBG pada 28 Agustus lalu. Dua di antaranya harus dirawat intensif di rumah sakit.
Sementara di Tembilahan, Indragiri Hilir, hasil pemeriksaan laboratorium Dinas Kesehatan setempat menemukan bakteri Escherichia coli pada sampel mie, sayuran, dan orak-arik telur dari makanan MBG.
Kepala Dinas Kesehatan Inhil, Rahmi Indrasauri menegaskan, bahwa sampel muntahan pasien mengandung bakteri koliform, meski bukan jenis bakteri berbahaya.
Data terbaru dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), hingga 27 September 2025 mencatat 8.649 anak mengalami keracunan MBG di Riau, dengan 3.289 kasus terjadi hanya dalam dua pekan terakhir. Periode 22-27 September menjadi puncaknya dengan 2.197 korban, dikutip dari goriau. (Red)
Editor : Kar











