Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Peristiwa » PAKAR Hukum Pertanahan: Pulau Rempang Bukan Pemukiman Tanah Adat, Tapi Kawasan Hutan!

PAKAR Hukum Pertanahan: Pulau Rempang Bukan Pemukiman Tanah Adat, Tapi Kawasan Hutan!

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 19 Sep 2023
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KONFLIK pasca rusuh Rempang beberapa hari terakhir ini menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Minimnya pengetahuan terkait fakta-fakta yang belum terungkap, memicu beredarnya hoaks atau berita bohong berbau SARA.

Bahkan Menteri ATR/Kepala BPN Hadi Tjahjanto menjelaskan bahwa tanah seluas 17.000 hektare di Pulau Rempang sebagian besar merupakan kawasan hutan dan tidak ada hak atas tanah di atasnya.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Hukum Pertanahan, Dr Ir Tjahjo Arianto SH MHum, menyebut bahwa Pulau Rempang adalah hutan yang digarap oleh masyarakat penggarap dan bukan tanah adat.

“Maka harus dibedakan, disitu Rempang itu kan sebagian besar adalah bekas hutan dan bekas HGU. Jadi bukan pengakuan kepemilikan, tapi pengakuan dia telah menggarap, walaupun penggarapan (perkebunan, peternakan) itu ya ilegal,” ujar Tjahjo kepada wartawan, Senin 18 September 2023.

Termasuk soal tanah ulayat atau adat, Tjahjo mengatakan bahwa belum ada dasar hukum yang tegas terkait apa saja yang membuat sah keberadaan pemukiman tanah adat di Pulau Rempang.

“Kalau aturan yang tegas belum ada, hakikatnya kalau hukum ada yang namanya logika hukum. Kalau mereka menggarap tanah itu turun menurun, tinggal disitu turun menurun,  itu bisa dikatakan masyarakat adat. Tapi harus diteliti dan dan di cek kembali hutan dilepaskan tahun berapa kepada para penggarap. Ini tanggung jawab Walikota Batam,” paparnya.

Tjahyo juga menambahkan juga bahwa tidak ada istilah tanah milik negara. Adanya milik pemerintah sebagai pengelola negara.

Semua wilayah Batam itu direncanakan akan menjadi milik pemerintah di bawah pengelolaan BP Batam. Dengan ciri-cirinya BP Batam diberi Hak Pengelolaan Lahan (HPL).

“Jadi bila BP Batam itu mengajukan kerjasama dengan investor,  maka investor akan dapat Hak Guna Bangunan (HGB) di atas HPL, Artinya pemilik tanah tetap pemerintah dalam hal ini wilayah Batam,” jelasnya.

Tjahyo menuturkan bahwa pendudukan oleh masyarakat Pulau Rempang ini tidak serta-merta menjadikan masyarakat tersebut menjadi pemilik tanah dimaksud.

Menurutnya kasus Kampung Tua ini berbeda dengan pendudukan yang dilakukan masyarakat Pulau Rempang atas bekas perkebunan HGU.

Pendudukan oleh masyarakat Pulau Rempang ini tidak serta-merta menjadikan masyarakat tersebut menjadi pemilik tanah dimaksud.

Terhadap hal pendudukan ini, harus ada kebijakan khusus dan tidak harus dipertahankan seperti Kampung Tua di tempat lain.

Model penyelesaian sengketa penguasaan tanah antara masyarakat dan BP Batam harus diawali dengan penelusuran riwayat tanah melalui sejarah, cagar budaya, tanda-tanda fisik alam, seperti usia pohon atau tanaman keras yang ditanam, pengakuan dan kesaksian masyarakat serta lembaga adat.

Surat Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat Negara Nomor B.2593/Kemensetneg/D-3/DM.05/05/2015 tanggal 12 Mei 2015 merupakan jawaban terhadap surat tuntutan masyarakat Kampung Tua kepada Presiden.

“Inti surat ini memerintahkan Gubernur Kepulauan Riau, Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Kepulauan Riau, dan Kepala Badan Pengusahaan Batam untuk membuat kajian dalam rangka penyelesaian,” ungkapnya.

Sementara Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio menduga ada tumpang tindih terkait dengan kepemilikan lahan sehingga mengakibatkan konflik agraria di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau.

Agus pun meminta agar Kementerian ATR/BPN bisa memperbaiki data terkait dengan kepemilikan lahan di Pulau Rempang yang diduga ada tumpang tindih.

“Saya curiga setelah adanya rencana pengembangan Pulau Rempang di tahun 2000 an, kemudian banyak yang mencari tanah disana dan dikasih surat sehingga kepemilikannya pun tumpang tindih. Nah ini yang harus dirapikan oleh pihak ATR/BPN,” lanjut Agus.

Agus mengatakan bahwa perencanaan adanya proyek di Pulau Rempang memang sudah sejak lama sekitar Tahun 2000-an.

Namun, proyek tersebut tak kunjung digarap dan lahan pun dibiarkan begitu saja, sehingga dijadikan tempat pemukiman masyarakat.

“Tapi perlu kita ketahui, di Indonesia mayoritas itu kepemilikan tanahnya itu kurang jelas, karena dari awal dulu surat menyurat itu mereka ngga punya, karena itu tanah negara, tapi sudah digarap ditinggali puluhan tahun begitu,” ungkapnya.

Bahkan Agus menyebut bahwa secara legal, tak ada peraturan yang mengharuskan pemerintah melakukan ganti rugi terhadap tanah milik negara yang ditinggali masyarakat.

Karena dalam peraturan kalau tanah milik negara kayak HGB dan sebagainya kalau diminta negara ya harus pergi,” imbuhnya.

Masalah konflik agraria itu pun menjadi bumerang bagi masyarakat terkait adanya statement janji kampanye Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2019 lalu yang disebut akan memberikan sertifikat kepada masyarakat.

Tadi saya lihat ada program kalo presiden kampanye pada tahun 2019 bahwa janji kasih sertifikat kaya gitu lho, dan itu tidak dikomunikasikan dengan baik,” lanjutnya.

Ketika investor ingin membangun lahan tersebut menjadi terhambat karena kurangnya data studi sosial antropologi. Menurutnya, dalam hal ini pemerintah tak mengkaji terkait dengan studi ilmu sifat manusia dan lain sebagainya.

Agus juga menduga adanya konflik kepentingan dibalik permasalahan agraria yang ada di Pulau Rempang.

“Ya pasti lah ada yang menunggang. Kalau soal politik, pasti ada kepentingan lain apalagi mau Pemilu,” pungkasnya. (Disway.id)

Editor : Kar

 

Terimakasih telah mengunjungi website kami. Ikuti kami terus di https://detak24.com

 

Penulis

Cepat, Lugas dan Akurat

Rekomendasi Untuk Anda

  • Makin Jeblok, Rupiah Sentuh Level Rp 17.880 per Dolar AS 

    Makin Jeblok, Rupiah Sentuh Level Rp 17.880 per Dolar AS 

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, detak24com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin jatuh pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (29/05/26). Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot kembali melemah 35 poin atau 0,20% menjadi Rp 17.880 per dolar AS. Sementara itu, pergerakan mata uang utama di kawasan Asia terpantau beragam terhadap dolar AS. Yen […]

  • DUMAI Membara, BPBD Riau Semai 20 Ton Garam Padamkan Karhutla

    DUMAI Membara, BPBD Riau Semai 20 Ton Garam Padamkan Karhutla

    • calendar_month Minggu, 23 Apr 2023
    • account_circle Redaksi
    • 13Komentar

    DUMAI, detak24com – Selain mengerahkan helikopter water bombing,  BPBD Riau juga menyemai 20 ton garam untuk memadamkan karhutla di perbatasan Dumai – Bengkalis. Kalaksa BPBD Riau, Edy Afrizal menuturkan, saat ini pihaknya sudah melakukan upaya pemadaman dengan menyemai 20 ton garam di langit Dumai. “Bahan semai NaC1 1.000 Kg dengan 20 ton garam,” kata Edy […]

  • Tim SAR mencari bocah tenggelam di Sungai Siak Pekanbaru. F : riauterkini

    Sampan Tenggelam, Warga Sumut Hilang di Sungai Barbari Siak 

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    SIAK, detak24com – Sebuah sampan mengalami kecelakaan di Sungai Berbari, Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak, Ahad (03/11/24) malam. Seorang tenggelam dan hilang. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Pekanbaru, Budi Cahyadi mengatakan, informasi kecelakaan itu disampaikan oleh staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Siak. “Kami mendapat informasi terkait insiden itu sekitar pukul 21.00 WIB malam. Korban […]

  • Info BMKG: Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Landa Riau

    Info BMKG: Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Landa Riau

    • calendar_month Minggu, 23 Okt 2022
    • account_circle Redaksi
    • 23Komentar

    PEKANBARU, detak24.com – Hujan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi mengguyur Riau, Ahad (23/10/22). Menurut Forecaster On Duty BMKG stasiun Pekanbaru Fitri, hujan sudah mengguyur Riau sejak pagi hari dan akan berlangsung hingga dini hari. “Hujan bersifat tidak merata hanya terjadi di sebagian wilayah Riau saja,” ujar Fitri, […]

  • AMANKAN 428 Kg Sabu dan 162 Ribu Ekstasi, Bareskrim Ciduk 13 Tersangka di Aceh-Riau-Bali

    AMANKAN 428 Kg Sabu dan 162 Ribu Ekstasi, Bareskrim Ciduk 13 Tersangka di Aceh-Riau-Bali

    • calendar_month Jumat, 30 Jun 2023
    • account_circle Redaksi
    • 12Komentar

    JAKARTA, detak24com – Sebanyak total 13 tersangka berhasil diringkus Bareskrim Polri dalam pengungkapan kasus peredaran narkoba di tiga wilayah, yakni Aceh, Riau dan Bali. “Barang bukti yang disita dari seluruh kegiatan tersebut di tiga lokasi yang tadi saya sampaikan ada 428 kg sabu dan 162.932 butir ekstasi,” ucap Kabareskrim Polri, Komjen Pol Agus Andrianto dilansir […]

  • LAZ Ibadurrahman Kembali Launching Program Pemberdayaan Ekonomi Umat

    LAZ Ibadurrahman Kembali Launching Program Pemberdayaan Ekonomi Umat

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Yusrizal Sikumbang
    • 0Komentar

    BENGKALIS, detak24.com – LAZ Ibadurrahman, Senin (27/04/26) pagi menyalurkan zakat produktif dan konsumtif kepada masyarakat melalui kegiatan yang digelar di Lapangan Kantor Kemenag Bengkalis. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi LAZ Ibadurrahman dengan Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis dalam mengelola dan menyalurkan dana zakat. Penyaluran bantuan dilakukan secara simbolis kepada para penerima manfaat, yang terdiri dari 10 […]

expand_less