MBG Prasmanan Segera Diberlakukan di Riau, Sekolah Wajib Siapkan Ini!
- account_circle Redaksi
- calendar_month 12 menit yang lalu
- print Cetak

Ilustrasi MBG prasmanan. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PEKANBARU, detak24com – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menyiapkan konsep baru penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem prasmanan di lingkungan sekolah.
Skema ini akan diterapkan melalui program percontohan atau piloting dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin keamanan pangan dan kenyamanan peserta didik.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Riau Ranto, mengatakan bahwa tidak semua sekolah bisa langsung menerapkan konsep MBG prasmanan.
Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui sebelum ditetapkan sebagai lokasi percontohan.Persyaratan awal yang harus dipenuhi adalah adanya persetujuan resmi dari pihak sekolah dan Tim Satuan Tugas (Satgas). Dukungan tersebut diperlukan agar pelaksanaan program berjalan dengan koordinasi yang baik.
“Sebelum suatu sekolah ditetapkan layak melaksanakan piloting ini, terdapat beberapa tahapan dan persyaratan yang harus dipenuhi yaitu adanya persetujuan resmi dari pihak sekolah dan Tim Satgas,” ujar Ranto di Kantor Gubernur Riau, Jumat (06/11/26).
Setelah mendapatkan persetujuan, sekolah wajib menyiapkan tata letak meja penyajian dan mengatur alur antrean siswa saat mengambil makanan. Pengaturan ini bertujuan mencegah penumpukan peserta didik, sekaligus memastikan proses pembagian makanan berlangsung tertib.
Pelaksanaan MBG prasmanan juga membutuhkan petugas penyaji yang berasal dari tim pelaksana, relawan, maupun siswa yang ditunjuk. Tenaga pendidik turut dilibatkan untuk mendampingi dan memastikan mekanisme pelayanan berjalan sesuai ketentuan.
“Kemudian, sekolah perlu menyiapkan tata letak meja penyajian serta alur antrean siswa saat mengambil makanan. Kami juga melibatkan tim, volunteer atau anak-anak yang ditunjuk sebagai petugas penyaji. Serta peran aktif tenaga pendidik juga kita libatkan,” jelasnya.
Aspek kebersihan dan keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam penerapan konsep tersebut. Seluruh peralatan penyajian harus dipastikan bersih dan higienis untuk mencegah kontaminasi makanan yang berisiko menyebabkan gangguan kesehatan maupun pencernaan pada anak.
BGN juga mengatur kesesuaian porsi makanan berdasarkan kelompok penerima manfaat. Porsi besar dan kecil akan dibedakan agar kebutuhan gizi peserta didik terpenuhi sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG).
“Selanjutnya, memastikan seluruh alat saji bersih dan higienis guna menghindari kontaminasi yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada anak. Memastikan porsi makanan sesuai dengan sasaran (dibedakan antara porsi besar dan kecil) agar memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak,” ungkap dia.
Tidak hanya memastikan makanan tersaji dengan baik, pelaksanaan program juga akan dievaluasi melalui pencatatan kehadiran siswa dan pemantauan sisa makanan atau food waste.
Pencatatan tersebut penting untuk mengetahui tingkat partisipasi peserta didik sekaligus mengevaluasi jumlah makanan yang tidak dikonsumsi.
Sekolah juga diwajibkan menyediakan fasilitas pendukung berupa tempat mencuci tangan. Fasilitas ini diperlukan agar siswa dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan menjaga higienitas sebelum maupun sesudah makan.
“Kami juga melakukan pencatatan kehadiran peserta didik serta memantau sisa makanan (food waste). Yang terpenting, di sekolah itu tersedianya fasilitas pendukung seperti tempat cuci tangan agar anak-anak dapat menerapkan prosedur higienitas yang baik,” paparnya.
Selain kebersihan peralatan dan kesesuaian porsi, pengaturan suhu makanan juga menjadi bagian penting dalam standar pelayanan MBG prasmanan.
Ranto menjelaskan, terdapat perbedaan penanganan suhu makanan antara sistem pengiriman menggunakan wadah tertutup atau ompreng dengan konsep penyajian prasmanan.
“Terkait suhu makanan, jika pengiriman menggunakan wadah tertutup atau ompreng makanan biasanya perlu didinginkan terlebih dahulu agar tidak berembun di dalam wadah. Namun, khusus untuk model prasmanan ini, suhu makanan dijaga tetap hangat dalam batasan standar yang aman dan nikmat dikonsumsi,” pungkasnya dikutip dari MCRiau. (*)
Editor : Kar

















