Lantang! Ketua BEM UGM Sebut MBG Maling Berkedok Gizi, Rawan Korupsi Berjamaah
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. f : ist
JAKARTA, detak24com – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto, melontarkan kritik keras terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam wawancara mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang diunggah beberapa lalu , Tiyo menegaskan bahwa program tersebut kini lebih layak menyandang akronim baru yakni ‘Maling Berkedok Gizi‘.
Baca juga : Soal Temuan Puntung Rokok dalam Menu MBG di Duri, Ini Tanggap Korwil SPPG
Dia menilai label “Makan Bergizi Gratis” hanyalah kemasan luar untuk menutupi praktik pengalihan anggaran negara yang diduga kuat mengalir ke kantong elite politik.
“Kita harus jujur, MBG ini sudah tidak layak disebut Makan Bergizi Gratis. Bergizi saja tidak, gratis pun sebenarnya pakai uang rakyat yang dipaksa. Ini lebih tepat disebut Maling Berkedok Gizi,” tegas Tiyo dalam video tersebut dikutip, Rabu (25/02/26).
Cuan Rp 1,8 M dan Keterlibatan Politisi
Tudingan “Maling Berkedok Gizi” ini bukan tanpa dasar. Tiyo memaparkan data mengenai skema bisnis di balik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menengarai adanya potensi keuntungan bersih (cuan) mencapai Rp 1,8 miliar per tahun untuk setiap unit satuan pelayanan.
Baca juga : Viral Sekolah di Bintan Kepri Teken Surat Rahasiakan Keracunan MBG
Tiyo juga menyoroti dominasi figur-figur dari partai penguasa, termasuk sejumlah politisi yang berafiliasi dengan Partai Gerindra, yang mulai menguasai lini logistik dan pengelolaan dapur di berbagai daerah. Ia menilai ada desain sistematis untuk menjadikan program gizi anak sebagai instrumen “balas budi” politik serta pendanaan terselubung bagi kroni partai.
Teror dan Sindiran Balik Antek Asing
Keberanian Tiyo membongkar sisi gelap proyek ini berbuntut panjang. Ia mengaku dihujani serangkaian teror fisik dan digital, mulai dari penguntitan hingga ancaman pembunuhan melalui pesan singkat dari nomor asing.
Tiyo pun menyindir balik narasi pihak istana yang kerap menyudutkan mahasiswa kritis sebagai perpanjangan tangan pihak luar. “Saya dituduh sebagai antek asing, tapi rupanya yang meneror saya justru menggunakan nomor kode luar negeri. Lalu siapa sebenarnya antek asing?” sindirnya tajam.
Tekanan ini ternyata tidak hanya menyasar Tiyo. Ia mengungkapkan ada lebih dari 40 pengurus BEM UGM yang mengalami intimidasi serupa dari pihak tak dikenal. Bahkan, teror tersebut kini mulai menyasar orang tua Tiyo.
Lawan dengan Sikap Kesatria
Meski Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol Sony Sonjaya telah membantah angka keuntungan Rp 1,8 miliar tersebut dan menyebutnya sebagai pendapatan kotor, Tiyo tidak bergeming. Ia tetap bersikeras bahwa transparansi proyek MBG sangat rendah dan rawan menjadi ajang korupsi berjamaah.
Menghadapi ancaman yang kian nyata, Tiyo memilih untuk tidak surut selangkah pun. “Saya jalani saja dan menghadapinya secara kesatria. Kita tidak boleh memperlihatkan rasa takut, sebagai pesan bahwa peneror tidak akan pernah menang,” tegasnya, dikutip dari asaindonesia.id. (*)
Editor : Kar
