DETAK24COM

Cepat Lugas dan Akurat

HIKMAH : Bencana Alam dan Bencana Kemanusiaan

Prof. Adnan Kasry. f : ist

ALLAH SWT telah memperingatkan ancaman bencana akan terjadi: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar” (Ar-Rum 41).

Bumi yang diciptakan Allah swt merupakan satu-satunya planet yang dikhususkan untuk makhluk hidup, terutama untuk manusia. Para ahli memperkirakan planet bumi telah berumur sekitar 5 milyar tahun. Pada awalnya belum ada oksigen (O2) dalam atmosfer bumi yang ditandai belum adanya kehidupan organsime, tetapi kadar kaerbondioksida (CO2) sangat tinggi. Sekitar 4,5 milyar tahun yang lalu mulai ada air cair di permukaan bumi, berarti sudah ada oksigen dan mulailah terbentuk kehidupan yang sederhana dalam bentuk molekul organik, antara lain juga juga mengandung zat hijau daun (klorofil).

Setelah adanya klorofil mulailah berlangsung proses fotosintesis di bumi dengan menggunakan cahaya matahari sebagai sumber energi. Dengan berkembangnya organisme yang berklorofil, proses fotosintesis pun makin berkembang. Berarti kadar CO2 semakin berkurang dan kadar O2 semakin meningkat di atmosfer bumi, sehingga memungkinkan terbentuk lapisan Ozon (O3).

Dengan meningkatnya kadar CO2 di atmosfer memungkinkan pula dapat berlangsungnya kehidupan di daratan (aerob). Bentuk kehidupan semakin kompleks dan sempurna dari organisme bersel satu menjadi bersel banyak dengan bermacam organ dalam tubuh yang bekerjasama dengan rapih dan teratur sebagai satu kesatuan sistem.

Teori evolusi ini tidak semua ahli sepakat tentang bagaimana kehidupan pertama kali muncul di bumi yang menyatakan bahwa kehidupan berawal dari sebuah sel yang terbentuk secara kebetulan. Mereka berpendapat bahwa kehidupan hanya muncul dari kehidupan.

Kehidupan pertama di bumi ini harus berasal dari kehidupan lain, Ini merupakan refleksi asma Allah yaitu “Al Hayyun”, pemilik kehidupan. Kehidupan dapat bermulai, berlanjut dan berakhir hanya dengan kehendak-Nya. Sedangkan evolusi, selain tidak mampu menjelaskan bagaimana kehidupan dimulai, juga bagaimana bahan-bahan penting bagi kehidupan dapat terbentuk dan bersatu.

Sejalan dengan perkembangannya, para ahli geologi berpendapat bahwa makhluk hidup pertama yang diciptakan adalah organisme bersel satu di perairan (laut) yang kemudian secara bertahap berevolusi ke daratan milyaran tahun yang lalu sampai terbentuk dengan sempurna berbagai mahkluk hidup, baik yang tidak bertulang belakang (avertebrata) maupun yang bertulang belakang (vertebrata) dan berbagai jenis tumbuhanan.

Bumi yang semula ditutupi oleh gas karbondioksida yang tidak memungkinkan adanya kehidupan kemudian secara bertahap mulai menipis dan terbentuk oksigen melalui proses fotosintesis. Adanya air dan oksigen ini yang menjadi unsur alam utama yang diperlukan untuk kehidupan makhluk hidup.

Ratusan juta tahun penyempurnaan pembentukan planet bumi untuk dapat menjadi habitat bagi makhluk hidup boleh dikatakan tidak mengalami bencana alam dan bencana mulai hadir setelah terjadi peningkatan jumlah makhluk hidup, terutama manusia, di muka bumi ini. Bencana utama yang muncul umumnya berasal dari perebutan sumber daya alam (SDA) berupa bahan makanan/pakan untuk menopang kehidupan manusia yang semakin banyak. Manusia mulai memanfaatkan SDA untuk memenuhi kebutuhan pangan melalui perebutan dan peperangan yang merusak dan menghancurkan SDA dan Lingkungan hidup.

Pada kawasan-kawasan tertentu di muka bumi, mulai muncul bencana alam dan bencana kemanusiaan yang menyebabkan kerusakan SDA dalam berbagai bentuk. Manusia yang memiliki kemampuan tinggi akan memanfaatkan SDA tanpa ada kendala dengan cara sekehendak hatinya demi memenuhi kebutuhan hidup kelompok mereka tanpa perduli akan kerusakan dan keberlangsungan ketersediaan SDA untuk menunjang keberlanjutan kehidupan kelompok lain bahkan untuk kelompok mereka sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana diartikan yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan, malapetaka, kecelakaan, marabahaya. Bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia. Oleh sebab itu, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan bencana berupa bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial.

Bencana yang disebabkan faktor alam disebut dengan bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang diakibatkan oleh aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan dan terjadi di mana-mana, dan sering dianggap bahwa hal itu dipengaruhi oleh pemanasan global dan perubahan iklim.

Bencana hidrometeorologi atau bencana ekologis ini merupakan bencana yang dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim ekstrem, seringkali berkaitan dengan siklus air seperti curah hujan, suhu, dan angin. Contoh utamanya adalah banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, puting beliung, gelombang tinggi dan rob, serta kebakaran hutan dan lahan yang berdampak negatif terhadap kehidupan makhluk hidup dan manusia. Selain itu, termasuk kategori bencana alam adalah bencana (keadaan) yang disebabkan faktor alam seperti gempa bumi, angin besar dan banjir.

Bencana yang terjadi saat ini di seluruh permukaan bumi, termasuk di Indonesia, hanyalah akibat dari bencana yang jauh lebih besar. Bencana itu hanyalah akibat bukan sebab. Sebab, bencana yang lebih besar adalah bencana kemanusiaan yang sudah terjadi cukup lama dalam bentuk keserakahan, kerakusan, ketamakan, manipulasi, pejudian, pernarkobaan, penipuan, dan mental egois.

Bentuk konkritnya berupa korupsi, kolusi, nepotisme, penguasaan lahan, penguasaan aset negara, penebangan hutan, penambangan ilegal, penipuan dan lain-lain oleh oknum-oknum tertentu, terjadinya Negara dalam Negara, dan lain-lain. Jadi bencana alam yang terjadi itu sebenarnya adalah akibat dari bencana kemanusiaan yang telah lama terjadi negara ini, juga di banyak negara di dunia.

Perpaduan bencana alam dan bencana ekologis serta bencana kemanusian inilah yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir 2025 yang menghancurkan infrastruktur, kematian manusia lebih dari seribu orang dan berdampak sangat besar terhadap kerusakan SDA dan lingkungan hidup. Kerusakan SDA dan lingkungan hidup yang terjadi akibat buruknya tata kelola alam, pada hakekatnya merupakan akibat perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab bahkan tidak berprikemanusiaan.

Terjadinya bencana ini yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dan SDAnya akhir-akhir ini disebabkan ulah manusia telah mempercepat dan memperbesar penyebab kerusakan lingkungan hidup, sehingga semakin cepat pula memunahkan sebagian atau seluruh makhluk hidup tertentu, yang berarti punahnya plasma nutfah.

“Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila hujan itu turun mengenai-hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira” (An-Rum 48).

Kemudian “Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” (An Nahl 16). Melalui Surat Al-Qashas 77, Allah swt menganjurkan dan memperingatkan “Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagian dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Turunnya hujan yang normal memberikan kenikmatan dan kebahagiaan bagi manusia dan makhluk hidup lain, sebaliknya hujan lebat berkepanjangan memberikan kerusakan hebat.

Bencana alam berupa banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung yang terjadi di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Kalimantan, Sulawesi dan daerah-daerah lain yang sebagian besar merupakan dampak dari bencana kemanusiaan ini hendaklah menyadarkan kita di bulan Ramadhan 1447 H ini.

Kita, khususnya umat Muslim, kata Prof Dr Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah (Suara Muhammadiyah, Januari 2026), yang sedang menjalankan ibadah puasa, “perlu menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh masyarakat yang terdampak bencana”.

Selain menyampaikan duka secara spiritual melalui doa, seluruh aspek harus menyadari bahwa “musibah (banjir, tanah longsor dan kematian) ada unsur takdir Allah, dan diperlukannya ikhtiar manusia, sehingga ada upaya serius untuk menanggulangi dan mencegah dampak yang lebih besar. Kematian tidak ada hubungannya dengan sakit. Semua itu hanya wasilah untuk kembali kepada dekapan kasih dan sayang-Nya. Mari kita panjatkan inna lillahi wa inna illahi rajiun. Kita doakan (Bapak/Ibu/Saudara) husnul khatimah, dilapangkan kuburnya dan dijadikan ahlul jannah”.

Suatu musibah berat yang tentu tidak dikehendaki oleh siapa pun dan mesti dihadapi dengan sikap positif. Sikap positif dalam menghadapi bencana sebagai suatu musibah ialah menerimanya dengan sabar disertai ikhtiar yang optimal untuk mengatasi dan mencari solusi. Bagi kaum beriman, hidup dan mati, anugerah dan musibah, serta segala hal yang terjadi di dunia ini tidaklah lepas dari Kuasa Zat Yang Maha Esa, sebagaimana firman Allah: ”Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (Qs Al-Hadid-22).

Allah swt telah memperingatkan hal ini akan terjadi serta memberi ancaman seperti dalam firmanNya dalam QS Ar-Rum 41 sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini. Karenanya, pada bulan suci Ramadhan 1447 H ini, bencana alam yang telah terjadi haruslah dijadikan momentum memperbaiki kembali kemanusiaan dengan memperbaiki akhlak, moral, kejujuran, cinta kemanusiaan, cinta kedamaian, cinta Tanah Air, dan lain-lain.

Indonesia yang sangat kaya dengan SDA dan lingkungan hidup yang indah sebagai anugerah tak terhingga dari Allah SWT sudah saatnya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat, tidak ada lagi kemiskinan, bukan hanya dinikmati oleh segelintir manusia yang serakah, dan harus berada dalam alam keadilan sosial yang merata. (cakaplah)

Penulis adalah Dosen Senior Ilmu Lingkungan PPs Unri.

Editor : Kar