Harga Pangan dan Biaya Kuliah Picu Inflasi di Riau hingga 4,5 Persen
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Grafik laju inflasi di Riau yang naik hingga 4,5 persen. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PEKANBARU, detak24com – Laju inflasi di Provinsi Riau kembali meningkat pada Juni 2026. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau menunjukkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 4,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,28.
Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, emas perhiasan, hingga biaya pendidikan menjadi faktor utama yang mendorong inflasi.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi menjelaskan, selain inflasi tahunan, Riau juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,35 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) berada di angka 0,96 persen.
“Pada Juni 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 4,55 persen dengan IHK 113,28. Secara bulanan atau month to month, Riau juga mengalami inflasi sebesar 0,35 persen, sementara inflasi tahun kalender atau year to date mencapai 0,96 persen,” ujarnya, Rabu (01/07/26).
BPS mencatat Kabupaten Kampar menjadi daerah dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di Provinsi Riau, yakni 4,90 persen dengan IHK 114,22.
Sebaliknya, Kota Dumai mencatat inflasi paling rendah sebesar 4,30 persen dengan IHK 113,33.
Perbedaan tingkat inflasi tersebut dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas di masing-masing daerah selama Juni 2026.
Inflasi tahunan di Riau dipicu kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran masyarakat.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan inflasi 10,77 persen.
Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 7,22 persen, pendidikan 5,08 persen, transportasi 4,38 persen, kesehatan 3,51 persen dan penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,08 persen.
Selanjutnya, rekreasi, olahraga, dan budaya 2,14 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,07 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,99 persen.
Sementara itu, dua kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan harga atau deflasi, yaitu perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,36 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen.
Menurut BPS, sejumlah komoditas memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan inflasi tahunan di Riau.
“Sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, cabai merah, bensin, biaya akademi atau perguruan tinggi, minyak goreng, biaya pemeliharaan atau servis kendaraan, ikan patin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), angkutan udara, ikan serai, daging ayam ras, nasi dengan lauk, ikan tongkol, cabai rawit,” jelas Asep Riyadi.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru membantu menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga.
Di antaranya sabun deterjen, jengkol, kentang, masker, buncis, kelapa, sandal kulit wanita, gaun wanita, blus wanita, sepatu pria, sabun mandi cair, tarif kendaraan roda empat daring, hingga celana panjang jeans wanita.
BPS menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil 2,31 persen.
“Dari sisi andil inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 2,31 persen,” imbuh Asep Riyadi.
Kontribusi berikutnya berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen, transportasi 0,56 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,32 persen dan pendidikan 0,23 persen.
Kemudian, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,14 persen, kesehatan 0,10 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,05 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,04 persen.
Secara keseluruhan, BPS menilai perkembangan harga berbagai komoditas selama Juni 2026 masih menunjukkan tren kenaikan.
Kondisi tersebut mendorong inflasi baik secara bulanan maupun tahunan di Provinsi Riau, dengan sektor pangan dan kebutuhan masyarakat tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan harga, dikutip dari MCR. (*)
Editor : Kar











