GEMPA Afghanistan Renggut Ribuan Nyawa: Kami Bahkan tak Punya Sekop untuk Keluarkan Bayi Saya dari Reruntuhan!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 15 Okt 2023
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SEORANG korban gempa Afghan, Ma’souma hendak keluar untuk memberi makan domba-dombanya ketika dia terlempar ke udara. Ia kemudian melihat rumah keluarganya runtuh. Hal terakhir yang diingat wanita berusia 45 tahun itu, ibu mertua menariknya menjauh dari reruntuhan.
“Iya, rumah itu berputar di sekitar saya dan saya terlempar tiga hingga empat kali sebelum saya terkubur di bawah tumpukan tanah,” ujarnya, menggambarkan gempa bumi yang melanda rumahnya di Nayeb Rafi di Afghanistan, dikutip Ahad (15/10/23).
Ma’souma sangat terpukul saat mengetahui bencana pekan lalu itu merenggut nyawa bayi perempuannya. “Anak perempuanku yang sedang menyusui sudah tiada,” katanya dengan suara sedih.
Dia tidak tahu di mana keenam anaknya yang lain berada. “Saya tidak tahu apakah mereka bersama seseorang atau berada di kamp,” ucapnya. “Ada 300 hingga 400 rumah di desa itu dan semuanya hilang,” tuturnya.
Tiga gempa bumi besar telah melanda Afghanistan barat dalam waktu kurang dari seminggu, menewaskan lebih dari 2.000 orang dan melukai hampir 1.800 orang, menurut PBB. Semua gempa tersebut berdampak pada Provinsi Herat, yang berada 1.000 kilometer di sebelah barat ibu kota Kabul.
Gempa bumi telah memblokir rute ke wilayah tersebut, menghambat aliran bantuan. Di beberapa desa, masyarakat terpaksa menggunakan tangan kosong untuk mencari korban selamat dan menemukan jenazah.
“Kami bahkan tidak punya sekop untuk mengeluarkan bayi perempuan saya. Kami kehilangan dia. Rumah itu baru saja runtuh menimpa kami,” kata Shaima, warga berusia 25 tahun, yang diselamatkan oleh seorang tetangga di Desa Sia Aab.
Sebuah makalah tahun 2021 yang diterbitkan dalam Journal of Disaster Risk Studies menemukan bahwa sebagian besar rumah di pedesaan Afghanistan terbuat dari batu bata yang dibakar dengan mortar semen atau batu bata yang dijemur. Konsekuensinya, rumah-rumah di pedesaan Afganistan sangat rentan terhadap aktivitas seismik.

















