GEMPA Afghanistan Renggut Ribuan Nyawa: Kami Bahkan tak Punya Sekop untuk Keluarkan Bayi Saya dari Reruntuhan!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 15 Okt 2023
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lebih dari 90% korban tewas dalam gempa bumi ini adalah perempuan dan anak-anak, menurut PBB. “Perempuan dan anak-anak seringkali berada di rumah, mengurus rumah tangga dan merawat anak-anak. Jadi ketika bangunan runtuh, merekalah yang paling berisiko terdampak,” kata Siddig Ibrahim, petugas lapangan yang bekerja untuk UNICEF.
Hal itulah yang terjadi pada keluarga Kubra di Desa Keshkak. Remaja berusia 17 tahun itu kehilangan 13 kerabatnya, termasuk ibu, seorang saudara perempuan, seorang bibi, dan tiga keponakan laki-laki. Pinggul dan kaki Kubra patah akibat bencana tersebut. “Kami semua berada di dalam rumah dan tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri,” katanya kepada BBC dari ranjang rumah sakit di kota Herat.
Keluarga Mina, yang tinggal di desa yang sama dengan Ma’souma, juga ikut terpukul akibat bencana tersebut. Rumah-rumah milik mereka runtuh jadi dia mengelilingi permukiman itu sambil menempelkan telinganya ke tanah untuk mencoba menemukan tanda-tanda kehidupan. “Saya menemukan orang-orang dari suara tangisan mereka. Anak-anak saya berada di bawah reruntuhan dan tidak ada seorang pun yang membantu mereka,” tuturnya.
Pada akhirnya keponakannya datang membantu dan mereka berhasil menarik 10 anak dari reruntuhan. Namun tiga putranya, dua cucunya, dan ayah mertuanya kehilangan nyawa. Mina dan keluarganya pun telah dipindahkan ke kamp pengungsi di Kota Herat. Dua putrinya dirawat di rumah sakit karena cedera tulang belakang dan salah satu putranya berada dalam kondisi kritis.
Wilayah ini hanya memiliki satu rumah sakit milik pemerintah yang kewalahan menangani jumlah korban jiwa, kata seorang perawat muda bernama Sahar. Dia berkata kepada BBC, kamar mayat penuh dengan cepat sehingga staf rumah sakit harus meletakkan jenazah di lantai, bahkan menumpuknya. “Jumlah jenazah terlalu banyak. Dari bayi hingga usia 70 tahun, semua orang tergeletak di sana. Bertumpuk-tumpuk,” kata Sahar.
Sahar mengatakan, rumah sakit tersebut kesulitan menyediakan air minum untuk semua pasien. Meskipun kekacauan pekan lalu mulai mereda, staf rumah sakit kelelahan. Bekerja tanpa kenal lelah selama beberapa hari dan melihat begitu banyak orang tewas dan terluka telah berdampak buruk pada kesehatan mental kami,” ujar Sahar.
“Setiap orang yang datang ke sini mempunyai kisah menyakitkan tentang tragedi yang telah merenggut orang yang mereka cintai. Mereka menceritakannya kepada kami dan kami menangis bersama mereka,” ucapnya.
Dalam sebuah pernyataan pada 9 Oktober lalu, Wakil Perdana Menteri Urusan Perekonomian dari pemerintahan Taliban, Abdul Ghani Baradar, mengatakan pemerintah memberikan “bantuan segera”, tetapi kelompok tersebut telah meminta lebih banyak bantuan dari komunitas internasional.
Sejumlah organisasi kemanusiaan mengatakan respons yang mereka salurkan lambat karena banyak negara enggan berhubungan langsung dengan pemerintah Taliban. Perhatian juga terfokus pada konflik di Israel dan Gaza, dikutip dari cnbcindonesia. ***
Editor : Kar

















