Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Puluhan SMK Swasta di Riau Terancam Tutup, Bosda Dihapus Dana Afirmasi Tak Cair

Puluhan SMK Swasta di Riau Terancam Tutup, Bosda Dihapus Dana Afirmasi Tak Cair

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PEKANBARU, detak24com – Puluhan kepala SMK swasta Provinsi Riau mengeluhkan kondisi sekolah yang mereka pimpin semakin terpuruk pada penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027.

Selain kekurangan peserta didik, sekolah swasta juga menghadapi persoalan dihapuskannya dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda), serta belum dibayarkannya anggaran bagi siswa penerima afirmasi selama dua tahun terakhir.

Ketua MKKS SMK Swasta Riau Faisal, menilai bahwa selama tiga tahun terakhir perhatian Pemprov Riau terhadap sekolah swasta terus berkurang. Menurutnya, kebijakan penerimaan murid baru justru lebih berpihak kepada sekolah negeri.

“Selama tiga tahun terakhir kami tidak melihat tak adanya perhatian dari Pemerintah Provinsi Riau terhadap sekolah swasta untuk membayar dana afirmasi. Demikian juga pada penerimaan siswa baru, yang dipikirkan hanya sekolah negeri, padahal jumlah sekolah swasta jauh lebih banyak dibanding sekolah negeri,” ujar Faisal pada sebuah kesempatan, Sabtu (27/06/26).

Ia mengatakan, setiap tahun Kota Pekanbaru memiliki sekitar 15 ribu lulusan SMP. Namun hingga kini tidak ada kebijakan yang mengarahkan sebagian lulusan tersebut ke sekolah swasta.

“Kalau dari 15 ribu lulusan SMP itu sekitar 3.000 sampai 4.000 siswa diarahkan ke sekolah swasta, tentu sekolah-sekolah kami masih bisa hidup. Tetapi sampai hari ini tidak pernah ada kebijakan seperti itu,” katanya.

Menurut dia, kondisi semakin sulit setelah sekolah negeri diberi keleluasaan menambah rombongan belajar (rombel), membuka jurusan baru, bahkan menerima hingga 42 siswa dalam satu rombel. Akibatnya, sekolah swasta hanya mampu memenuhi sekitar 20 hingga 30 persen dari kapasitas yang tersedia.

“Pemerintah daerah malah melakukan penggemukan sekolah negeri. Sampai penerimaan siswa di sekolah negeri ditutup, jumlah siswa di sekolah swasta hampir tidak berubah. Rata-rata sekolah hanya mampu memenuhi 20 sampai 30 persen dari daya tampung yang tersedia,” ungkapnya.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut sebagai upaya “membunuh” sekolah swasta secara perlahan.

“Ibaratnya sekolah swasta ini disuntik mati pelan-pelan. Sekarang sudah banyak sekolah swasta yang dulu besar, kini tidak lagi berkembang. Tidak ada langkah nyata dari pemerintah untuk menyelamatkan sekolah-sekolah yang selama ini ikut mencerdaskan anak bangsa,” tegasnya.

Lanjutnya, menegaskan sekolah swasta memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan di Riau, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi guru dan tenaga kependidikan.

“Di sekolah swasta banyak guru lulusan kampus-kampus terbaik di Riau yang kami pekerjakan. Itu juga membantu mengurangi angka pengangguran. Tapi sampai sekarang tidak ada perhatian kepada kami. Bahkan usaha kami untuk bertemu Gubernur Riau pun belum membuahkan hasil,” katanya.

Ia juga menyoroti belum cairnya dana afirmasi, padahal sekolah diwajibkan membebaskan biaya pendidikan bagi siswa penerima alokasi dana tersebut.

“Bagaimana sekolah membiayai siswa afirmasi kalau anggarannya tidak dibayarkan? Kami dilarang memungut biaya dari siswa afirmasi, sementara dananya tidak pernah cair. Itu sama saja membunuh sekolah swasta. Kami harus membayar gaji guru dan pegawai dari mana?” ujarnya.

Di sisi lain, penghapusan BOSDA semakin memperberat kondisi sekolah swasta. Faisal mengaku pihaknya mendapat penjelasan dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Riau bahwa BOSDA tidak lagi dianggarkan karena tidak adanya transfer dana dari pemerintah pusat.

“Katanya BOSDA tidak ada lagi karena tidak ada dana transfer dari pusat. Kami jadi bingung menyusun rencana kerja dan anggaran sekolah. Kalau biaya pendidikan dinaikkan, siswa pasti semakin berkurang. Ini benar-benar dilematis,” katanya.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Provinsi Riau kembali mengalokasikan BOSDA bagi sekolah swasta.

“Mengapa BOSDA dihilangkan di Riau yang merupakan daerah kaya? Kalau memang anggaran berkurang karena program lain, kami tetap berharap BOSDA dikembalikan karena itu sangat membantu keberlangsungan sekolah swasta,” ujarnya.

Faisal juga mengingatkan bahwa berkurangnya jumlah siswa berdampak langsung terhadap guru yang telah bersertifikasi karena berpotensi tidak lagi memenuhi kewajiban mengajar minimal 24 jam per pekan.

“Kami terus berjuang mempertahankan guru-guru yang sudah bersertifikasi. Tapi kalau jumlah siswa terus berkurang, otomatis jam mengajar mereka juga berkurang. Di satu sisi pemerintah memberikan kemudahan bagi guru sertifikasi, tetapi di sisi lain jumlah siswa kami justru terus menyusut,” katanya.

Selain itu, MKKS juga menilai sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring belum sepenuhnya berpihak kepada sekolah swasta. Meski sekolah swasta telah masuk dalam sistem, akses terhadap data calon siswa dinilai masih sangat terbatas sehingga menyulitkan proses tindak lanjut dan daftar ulang.

Sementara, Ketua MKKS SMK Swasta Pekanbaru Mohammad Jefri, mengatakan sekolah swasta selama ini memberikan pelayanan yang sama dengan sekolah negeri kepada seluruh siswa. Namun, menurutnya, keberadaan sekolah swasta seolah tidak lagi mendapat perhatian.

“Kami memperlakukan semua siswa dengan baik. Tetapi kondisi saat ini, jangankan menjadi anak tiri, kami seperti tidak diakui keberadaannya,” ungkapnya.

Ia juga membantah anggapan bahwa seluruh sekolah swasta memiliki biaya pendidikan yang mahal. “Tidak benar kalau sekolah swasta selalu mahal. Banyak masyarakat yang masih memiliki persepsi seperti itu,” katanya.

Jefri meminta pemerintah membuka data daya tampung sekolah negeri dan sebaran siswa agar proses penerimaan peserta didik berlangsung lebih transparan.

“Katanya banyak siswa yang tidak lulus di sekolah negeri. Tetapi kenyataannya banyak sekolah swasta hanya mendapat 10 sampai 15 siswa. Libatkan sekolah swasta untuk mengetahui daya tampung dan sebaran siswa. Semua data harus terbuka agar persoalan ini tidak terus berulang,” ujarnya.

Ia menegaskan sekolah swasta tetap berkomitmen mendukung seluruh program pemerintah di bidang pendidikan dan berharap ada kebijakan yang lebih adil.

“Kami selalu mengikuti arahan Dinas Pendidikan, berpartisipasi dalam setiap kegiatan, bahkan ikut menyukseskan program wajib belajar 12 tahun. Karena itu kami berharap ada keadilan bagi sekolah swasta. Sebab hidup matinya sekolah bergantung pada ada atau tidaknya siswa yang belajar di sana,” imbuhnya dikutip dari tribunpekanbaru. (*)

Editor : Kar

Penulis

Cepat, Lugas dan Akurat

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPU Terima Pendaftaran 28 Calon DPD Asal Riau, Ini Nama-namanya

    KPU Terima Pendaftaran 28 Calon DPD Asal Riau, Ini Nama-namanya

    • calendar_month Minggu, 14 Mei 2023
    • account_circle Redaksi
    • 18Komentar

    PEKANBARU, detak24com – KPU telah menerima pendaftaran 28 bakal calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Provinsi Riau. Berkas bacalon DPD asal Riau itu dinyatakan diterima untuk dilanjutkan verifikasi administrasi. Itu disampaikan Ketua KPU Riau, Ilham Muhammad Yasir di Pekanbaru. Artinya masih ada satu orang lagi yang belum mengantarkan berkas pendaftaran. Sebab KPU Riau sudah menetapkan […]

  • VIRAL TWITTER : Anak Pejabat Pajak Berharta Rp 56 M Aniaya Warga 

    VIRAL TWITTER : Anak Pejabat Pajak Berharta Rp 56 M Aniaya Warga 

    • calendar_month Kamis, 23 Feb 2023
    • account_circle Redaksi
    • 15Komentar

    JAKARTA, detak24.com – Warga Jakarta Selatan berinisial D  menjadi korban penganiayaan oleh pengemudi mobil Rubicon dan teman-temannya jadi viral Twitter. Pasalnya, pelaku anak pejabat pajak Kemenkeu yang punya harta Rp 56 M. Identitas pelaku bernama Mario Dandy Satriyo anak pejabat Pajak berharta Rp 56 M itu viral di media sosial. Dalam utas yang dibuat akun twitter […]

  • Apical Dumai Sosialisasi PMT di Puskesmas Sungai Sembilan. (f : ist

    Peduli Stunting, Apical Dumai Sosialisasi Pemberian Makanan Tambahan kepada Ibu Hamil

    • calendar_month Jumat, 26 Jul 2024
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    DUMAI, detak24com – Apical sosialisasi gizi seimbang serta pemberian makanan tambahan (PMT) kepada ibu hamil di Puskesmas Sungai Sembilan, Dumai, Jumat (26/07/24). Sebagai salah satu perusahaan pengolah minyak nabati terkemuka, melalui unit bisnisnya di Dumai Apical konsisten menanggulangi stunting. Program lanjutan kali ini yakni memberi penyuluhan tentang gizi berimbang serta PMT pada ibu hamil. Pada […]

  • Duh! Beli Pertalit dan Solar Pakai MyPertamina Mulai 1 Juli, Berikut Caranya

    Duh! Beli Pertalit dan Solar Pakai MyPertamina Mulai 1 Juli, Berikut Caranya

    • calendar_month Selasa, 28 Jun 2022
    • account_circle Redaksi
    • 14Komentar

    Jakarta, detak24.com – PT Pertamina Patra Niaga membagikan link pendaftaran untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) Pertalite dan Solar menggunakan aplikasi digital, MyPertamina.     Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution mengatakan pihaknya berinisiatif dan berinovasi untuk melakukan uji coba penyaluran BBM subsidi itu bagi pengguna berhak yang sudah terdaftar di dalam sistem MyPertamina. […]

  • MENGENAL Burundi Negara Termiskin Dunia Sanggup Imbangi Skuad Garuda

    MENGENAL Burundi Negara Termiskin Dunia Sanggup Imbangi Skuad Garuda

    • calendar_month Rabu, 29 Mar 2023
    • account_circle Redaksi
    • 18Komentar

    detak24com – Tim nasional Indonesia mati-natian menahan laju serangan pemain Burundi pada leg kedua FIFA matchday Timnas vs Burundi, Selasa (28/03)23) malam. Untung saja, dua gol dari Jordi Amat sehingga membuat skor 2-2. Profil negara Burundi pun menarik perhatian publik. Ternyata, Burundi negara termiskin dunia. Mulai dari perkapita, derajat kesehatan hingga jumlah penduduk yang hanya […]

  • Tim gabungan memadamkan api Karhutla di Rohil

    TERCATAT 34 Karhutla di Pelalawan, Puluhan Hektar Lahan Terbakar

    • calendar_month Jumat, 16 Jun 2023
    • account_circle Redaksi
    • 15Komentar

    PELALAWAN, detak24com – Puluhan hektar lahan di Kabupaten Pelalawan hangus terbakar tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat ada 34 kasus Karhutla selama 1 Januari hingga 15 Juni 2023. Kepala BPBD Kabupaten Pelalawan Zulfan menyebut, dari 34 kejadian tersebut tercatat ada 31,18 hektar lahan yang terbakar dari 12 kecamatan yang ada di Pelalawan. […]

expand_less