DETAK24COM

Cepat Lugas dan Akurat

Disangka Rudal Hipersonik, Kilatan Bola Api di Langit Gemparkan Warga Lampung 

Kilatan bola api seperti rudal Hipersonik yang melintas di langit Lampung. f : ist

LAMPUNG, detak24com Warga yang berada di pesisir utara Jawa, yang hingga Lampung dikejutkan oleh fenomena benda langit misterius melintas pada Sabtu (04/04/26) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Objek yang mengeluarkan pijar api panjang dan suara dentuman keras tersebut sempat memicu kepanikan massal, karena diduga sebagai serangan rudal.

Dikutip dari akun Instagram fakta.indo dan fakta.jakarta, Sabtu (4/4/2026) warga di pesisir laut utara, mulai dari Karawang, Kepulauan Seribu, Banten, hingga Lampung, merekam momen benda langit yang melesat dan jatuh tersebut.

Warganet pun ramai berspekulasi tentang asal-usul benda tersebut. Beberapa meyakini bahwa itu adalah meteor, puing roket, atau bahkan rudal hipersonik.

Fenomena ini bermula saat sebuah titik cahaya terang terlihat melesat di langit Karawang, Kepulauan Seribu, dan Banten, sebelum akhirnya tampak sangat jelas di wilayah Lampung Timur, Kota Metro, dan Lampung Selatan.

Setiawan (35), warga Desa Negeri Tua, Lampung Timur, menceritakan suasana mencekam saat benda itu melintas tepat di atas rumahnya. “Awalnya kaget karena ada suara dentuman. Setelah saya keluar rumah, saya makin kaget melihat ada benda langit itu. Kami sempat takut itu rudal salah sasaran,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Rudi (40), warga Sukadana. Ia melihat sinar api panjang tersebut saat dalam perjalanan menuju pasar. “Kalau kembang api tidak mungkin setinggi itu,” ujarnya memastikan bahwa objek tersebut bukan sekadar petasan atau kembang api biasa, dikutip dari derakpost.

Roket Satelit 

Fenomena kilatan bola cahaya yang melintas di pesisir utara Jawa, yang hingga Lampung ternyata berasal dari roket tahap tiga (upperstage) Long March-3B milik Tiongkok, dengan panjang 18 meter dan bermassa 20 ton.

Roket ini diterbangkan dari Xichang Space Center pada 23 Januari 2025 untuk menempatkan satelit militer Tongxin Jushu Shiyan (TJS)-14 ke orbit geostasioner setinggi 36.000 km dalam misi Y105. Setelah menyelesaikan tugasnya, tingkat 3 roket ini mengorbit Bumi hingga kecepatannya menurun dan akhirnya jatuh kembali ke atmosfer.

Pengamat angkasa luar Marufin Sudibyo dari lembaga Ekliptika menjelaskan, kilatan cahaya ini sangat terang, lebih terang dibanding planet Jupiter, dan terekam lama di video.

“Fenomena ini jelas bukan pesawat, satelit, rudal, atau meteor. Ini adalah sampah antariksa yang jatuh kembali,” katanya, Ahad (5/4/2026).

Lintasan rekonstruksi menunjukkan debris bergerak dari utara-barat laut menuju selatan-tenggara. Saat memasuki atmosfer, material roket terbakar, membentuk bola api dengan jejak cahaya panjang dan terkadang pecahan-pecahan yang terpisah, disertai suara gemuruh yang terdengar warga.

Ia menegaskan, sebagian besar debris akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

“Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa orbit Bumi dipenuhi sampah antariksa yang suatu saat bisa kembali ke atmosfer,” pungkasnya seperti diberitakan cakaplah. (*)

Editor : Kar