Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Detak Riau » Disuruh Pindah, Puluhan Ribu Warga 6 Desa Kawasan TNTN Ungkap Fakta Mengejutkan!

Disuruh Pindah, Puluhan Ribu Warga 6 Desa Kawasan TNTN Ungkap Fakta Mengejutkan!

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PELALAWAN, detak24com – Puluhan ribu warga enam desa di kawasan TNTN dituduh sebagai perambah, serta diminta relokasi mandiri sebelum 22 Agustus 2025. Padahal, mereka sudah membangun rumah, membesarkan anak-anak, mendirikan sekolah, masjid, pura dan gereja.

“Kami bukan musuh hutan, kami bagian dari alam yang kami jaga,” ujar Abdul Aziz, Juru Bicara Forum Masyarakat Korban Tata Kelola Hutan-Pertanahan Riau, Kamis (10/07/25).

Ia menjelaskan, kawasan yang kini disebut Taman Nasional atau TNTN itu dulunya merupakan wilayah bekas konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH).

Menurut dia, dari awal keberadaan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) itu sangat penting, terutama di Riau yang dikenal memiliki lahan luas. Namun ketika penertiban itu sampai ke TNTN dan masyarakat disebut sebagai perambah, membuat mereka terkejut.

“Kami harus sudah relokasi mandiri dari sana tanpa dikasi kesempatan untuk melakukan pembelaan diri secara hukum. Bagaimana proses hadirnya areal yang kami tempati itu menjadi taman nasional, juga tidak dikaji ulang. Padahal sedari awal proses hadirnya TNTN itu telah bermasalah. Namun itu seolah enggak ada dan kami yang dipersalahkan,” ujarnya.

“Ini kelihatan dari hasil inventarisasi BKSDA 2006, bahwa di sana itu sudah enggak ada lagi yang namanya hutan primer. Yang ada malah hutan sekunder yang kerapatan kayunya di atas 70 persen saja, itu hanya sekitar 10 ribu hektare,” imbuhnya.

Kalau merujuk pada PP 47 Tahun 1997 dan PP 26 Tahun 2008, menurutnya sebuah taman nasional haruslah kawasan yang masih alami.

“Tapi ini sudah bekas HPH. Jadi sangat menyakitkan saat kami disebut perambah, pendatang, bahkan direndahkan seolah kami perusak hutan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam proses penataan batas kawasan hutan, semestinya hak-hak masyarakat yang telah lebih dulu ada di sana, harus dikeluarkan dari kawasan. Ini malah diambil.

“Sama seperti penunjukan taman nasional tahap pertama, penunjukan perluasan TNTN di tahun 2009, arealnya juga bukan hutan murni lagi, karena sebelumnya bekas HPH PT Nanjak Makmur. Hasil identifikasi Balai Taman Nasional dan WWF tahun 2010 bahkan menyebut lebih dari 28 ribu hektare areal yang ditunjuk menjadi TNTN itu, sudah dikuasai oleh masyarakat,” jelasnya.

“Areal itu bekas HPH, belakangan, kami yang tinggal di sana dikatakan perambah dan pendatang yang merusak hutan. Sangat menyakitkan dituduh seperti itu. Orang yang tak tahu sejarah Taman Nasional itu akan percaya saja. Sebab dalam benak mereka, itu Taman Nasional, hutan rimba, padahal, sudah bekas tebangan perusahaan,” tuturnya.

Lanjut dia, bahwa taman nasional itu baru memiliki batas definitif pada tahun 2011. Mestinya hak-hak masyarakat yang sudah ada, dikeluarkan dari areal yang jadi taman nasional. Tapi itu tidak dilakukan, dan akhirnya masyarakat terperangkap.

Ia juga menyoroti klaim bahwa kawasan tersebut adalah paru-paru dunia. “Kami anggap itu tidak benar. Dari data Direktorat Jenderal KSDAE, yang diakui internasional sebagai paru-paru dunia di Riau itu adalah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, Bukit Batu, bukan Taman Nasional ini. Itu ditetapkan dalam konvensi di Jeju, Korea Selatan, tahun 2019,” ucapnya.

Ia menegaskan, masyarakat bukan tidak cinta lingkungan. Bahkan mereka sudah menanam pohon di sana. Bahkan Ia menyindir program penghijauan satu juta pohon yang selama ini sering digaungkan.

“Coba dilihat, pohonnya ada di mana? Jangan masyarakat disuruh tanam satu-dua pohon, tapi pemerintah malah kasih izin menebangi hutan puluhan ribu hektare ke korporasi,” sebutnya.

Aziz menyebutkan enam desa yang diklaim berada di kawasan Taman Nasional yaitu Bukit Kusuma, Lubuk Kembang Bunga, Segati, Gondai, Air Hitam, dan Bagan Limau. Jumlah jiwa yang terdampak mencapai sekitar 25 ribu orang. Di Desa Lubuk Kembang Bunga saja, tiga dusunnya sudah dihuni lebih dari 10 ribu orang.

“Di sana sudah ada fasilitas ibadah dan sekolah, semuanya dibangun swadaya. Tapi kini kami dipaksa memilih antara keluar atau bertahan. Kalau keluar, mau ke mana? Apakah ini tidak akan menambah pengangguran atau gelandangan?,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat siap menjaga hutan bersama pemerintah.

“Kalau memang klaimnya masyarakat menguasai 60 ribu hektare lahan yang disebut Taman Nasional itu, kami mengusulkan agar pemerintah memberikan lahan negara yang masih kosong dan tidak berpenghuni di sekitar kawasan tersebut. Biarkan masyarakat yang menghijaukannya, menjadikannya hutan kembali. Kami siap menyisihkan hasil dari kebun sawit kami, Rp500 ribu per hektare per tahun. Itu setara Rp30 miliar per tahun atau Rp2,5 miliar per bulan. Angka itu cukup untuk pembiayaan penghijauan. Dan bukan hanya menghijaukan, kami juga siap menjaga kelestariannya,” tegasnya.

Usulan ini, kata Aziz, sudah disampaikan dalam pernyataan tertulis saat diundang oleh Badan Aspirasi Masyarakat DPR RI pada 2 Juli lalu.

“Kami bukan sekadar menuntut hak, tapi juga memberi solusi,” ungkapnya.

Sebagai bentuk keseriusan, masyarakat bahkan berseloroh ingin didirikan enam pos militer untuk menjaga hutan yang dihadirkan oleh masyarakat secara swadaya itu.

“Biarkan kami yang bangun rumah bagi gajah dan satwa lain tak jauh dari tempat kami tinggal. InsyaAllah, kami bisa dan mari kita jaga bersama,” tutupnya dikutip dari cakaplah. (Red)

Editor : kar

Penulis

Cepat, Lugas dan Akurat

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pria Ubanan Dicokok di Pelabuhan Roro Bengkalis – Pakning, Polisi Sita Benda Ini!

    Pria Ubanan Dicokok di Pelabuhan Roro Bengkalis – Pakning, Polisi Sita Benda Ini!

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    BENGKALIS, detak24com – Seorang pria ubanan ditangkap polisi di Pelabuhan Roro Bengkalis – Pakning. Bersama tersangka, disita sabu serta barang bukti lainnya. Usia menjelang kepala lima seharusnya menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, prinsip hidup mulia tersebut tampaknya tak berlaku bagi ZA. Pria berusia 49 tahun ini justru memilih […]

  • Tak Disangka, Dua Emak Emak Warga Damon Bengkalis Jadi Pengedar Sabu 

    Tak Disangka, Dua Emak Emak Warga Damon Bengkalis Jadi Pengedar Sabu 

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    BENGKALIS, detak24com – Dua emak emak inisial M (35) dan M (40), warga Kelurahan Damon, Kecamatan Bengkalis digaruk polisi. Mereka kedapatan sebagai pengedar sabu. Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Bengkalis kembali mengungkap kasus peredaran narkotika di wilayah hukumnya. Kali ini, dua perempuan yang diduga sebagai pengedar sabu berhasil diamankan di sebuah rumah Jalan Jenderal Sudirman, […]

  • INFO TERBARU Pengumuman Kelulusan PPPK Guru, Ini Pernyataan Resmi Menteri Nadiem

    INFO TERBARU Pengumuman Kelulusan PPPK Guru, Ini Pernyataan Resmi Menteri Nadiem

    • calendar_month Senin, 27 Feb 2023
    • account_circle Redaksi
    • 15Komentar

    JAKARTA, detak24.com – Hingga hari ini, Senin 27 Februari 2023, belum juga ada pengumuman hasil seleksi PPPK Guru 2022. Namun, ada pernyataan terbaru Menteri Nadiem Makarim PPPK Guru. “Pengumuman Hasil Seleksi ditunda sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut. ”Kalimat tersebut masih betah terpampang di laman gurupppk.kemdikbud.go.id, yang disebut sebagai Portal Informasi Seleksi Guru ASN PPPK Tahun 2022. […]

  • Gempa Berkekuatan 6,1 Magnitudo Guncang Mentawai

    Gempa Berkekuatan 6,1 Magnitudo Guncang Mentawai

    • calendar_month Minggu, 11 Sep 2022
    • account_circle Redaksi
    • 20Komentar

    PADANG, detak24.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan informasi terjadi gempa bumi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Gempa tersebut dilaporkan berkekuatan 6,1 magnitudo. Gempa tersebut terjadi pada Ahad (11/09/2022) pukul 06.10 WIB. Lokasi gempa berada di 1,18 lintang selatan (LS), dan 98,53 bujur timur (BT). “Lokasi gempa berada pada jarak 147 km barat […]

  • INFO SAWIT : Harga TBS Riau Turun Lagi, Sabar…

    INFO SAWIT : Harga TBS Riau Turun Lagi, Sabar…

    • calendar_month Selasa, 17 Jan 2023
    • account_circle Redaksi
    • 10Komentar

    PEKANBARU, detak24.com – Harga sawit Riau turun untuk setiap kelompok umur sepekan ke depan. Menurut Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Defris Hatmaja, jumlah penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 10 – 20 tahun, yakni turun sebesar Rp 93,80/kg atau mencapai 3,48% dari harga minggu lalu. “Sehingga harga pembelian TBS […]

  • BPP KABUPATEN Rokan Tengah Audiensi dengan DPRD Rohil, Bahas Pemekaran

    BPP KABUPATEN Rokan Tengah Audiensi dengan DPRD Rohil, Bahas Pemekaran

    • calendar_month Kamis, 16 Mar 2023
    • account_circle Redaksi
    • 19Komentar

    ROHIL, detak24com – Badan Pekerja Pembentukan (BPP) Kabupaten Rokan Tengah (Roteng) bersama tokoh masyarakat dari lima kecamatan audiensi serta serahkan berkas pemekaran di DPRD Rohil, Kamis (16/03/23). Audiensi berlangsung di kantor DPRD Rohil tersebut dihadiri Wakil ketua l DPRD Rohil Basiran Nur Efendi, Wakil ketua ll Hamzah, anggota DPRD Rohil Parwedis, Sekretaris Dewan Sarman Syahroni, […]

expand_less