Terimakasih telah mengunjungi website kami. Ikuti kami terus di https://detak24.com
Putin Tarik Pasukan dari Pulau Ular Ukraina, Itikad Baik Menuju Perdamaian
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jumat, 1 Jul 2022
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Moskow, detak24.com — Rusia akhirnya menarik pasukan dari Pulau Ular, Ukraina bersempenaan usai Presiden Jokowi bertemu Putin di Istana Kremlin, Kamis (30/06/22).
Mereka menyatakan penarikan pasukan ini merupakan simbol itikad baik menuju perdamaian. Selain itu, agar Ukraina bisa mengekspor produk agrikultur ke luar negeri. Sehingga krisis pangan internasional dapat diatasi.
“Pada 30 Juni, sebagai iktikad baik, angkatan bersenjata Rusia merampungkan tugasnya di Pulau Ular dan menarik garnisun di sana,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia yang dikutip AFP.
Kemhan Rusia menegaskan penarikan ini membuktikan kepada dunia bahwa “Rusia tidak menghalangi upaya PBB untuk membangun koridor kemanusiaan guna mengirimkan produk agrikultur dari Ukraina.
Rusia mengambil keputusan ini setelah Ukraina menggempur pasukan Negeri Beruang Merah di pulau yang terletak di Laut Hitam itu.
Moskow menegaskan bahwa “bola sekarang berada di tangan Ukraina.” Menurut mereka, Ukraina tak kunjung membersihkan kawasan itu dari ranjau darat.
Di sisi lain, Ukraina merayakan kepergian pasukan Rusia ini. Penasihat kepresidenan Ukraina, Andryi Yermak, pun memuji angkatan bersenjata negaranya.
“KABOOM! Tak ada lagi tentara Rusia di Pulau Ular. Angkatan Bersenjata kami hebat,” kata Yermak melalui Twitter.
Komando militer Ukraina Selatan kemudian mengumumkan bahwa pasukan Rusia “mengevakuasi sisa granisunnya dengan tergesa” dari pulau itu “akibat serangan rudal dan artileri kami.”
Selama invasi Rusia di Ukraina, Pulau Ular menjadi sorotan karena merupakan salah satu kawasan jalur lalu lintas ekspor gandum dari negara itu.
Ukraina menuding Rusia mencuri gandum dari sejumlah unit penyimpangan, termasuk di Pulau Ular. Pencurian itu lantas memicu kekurangan pangan global.(CNN)
Editor : Kar











