Gawat! Prevalensi Stunting di Rohil Capai 30 Persen, Dampak Kemiskinan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 18 Jul 2022
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pekanbaru, detak24.com – Selain faktor keturunan dan sanitasi, stunting sangat erat hubungannya dengan kemiskinan. Bagaimana suatu keluarga dapat mencukupi kebutuhan gizi jika hidupnya pas-pasan.
Gubernur Riau, Syamsuar mengatakan, berdasarkan hasil survei Status Gizi Indonesia, Desember 2021 menempatkan angka prevalensi stunting di Provinsi Riau sebesar 22,30 persen.
“Kabupaten/kota yang memiliki tingkat prevalensi stunting tertinggi adalah Kabupaten Rokan Hilir. Yakni sebesar 29,70 %,” ujar Gubri dikutip Senin (18/07/22).
Dengan kondisi ini serta untuk mencapai target prevalensi nasional tahun 2024, menurutnya harus dilakukan kolaborasi serta keseriusan masing-masing. Bekerjasama dengan pemerintah provinsi, untuk menurunkan angka stunting.
Sebagai penghasil migas serta sawit, sangat ironis kiranya jika masih banyak angka kemiskinan di daerah ini. Ditambah lagi, banyaknya program pemerintah dalam menurunkan angka kemiskinan.
Dari sisi kesehatan serta pendidikan pemerintah pun telah menggelontorkan program gratis. Masyarakat miskin dapat layanan berobat gratis. Serta program wajib belajar 9 tahun secara gratis.
Data dari Kemenkes menyebutkan, stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak disebabkan berbagai macam faktor. Salah satunya kemiskinan yang membuat sang ibu tidak dalam kondisi yang optimal saat kehamilan.
Untuk menyelesaikan masalah stunting harus melibatkan lintas sektor. Kemiskinan dan pendidikan yang rendah tak bisa diobati secara aktual ketika kasus stunting terjadi, melainkan dibenahi sejak awal.
Penanganan stunting juga tak bisa dimulai dari sisi kesehatan saja. Seperti digencarkannya layanan Posyandu. Ketika ibu hamil dinyatakan kekurangan makanan berkalori dan protein tinggi, tetapi tak mampu memenuhinya, sehingga berujung pada gizi buruk.
Selain itu, ketika kondisi tersebut ditambah dengan tempat tinggal yang kumuh atau gaya hidupnya kurang sehat. Sehingga memunculkan penyakit lainnya seperti cacingan kronis dan tuberculosis (TBC).
Stunting bukan penyakit yang diberi obat langsung sembuh, melainkan masalah yang harus dituntaskan dari akarnya. Faktor-faktor itu seharusnya dibenahi sedari awal sebelum kehamilan. Faktor sosial ekonomi, faktor budaya, dan lainnya.(riaulink)
Editor : Kar
Terimakasih telah mengunjungi website kami. Ikuti kami terus di https://detak24.com











