Tebing Ngarai Sianok Longsor Timbun Sawah Milik Warga
Tebing di Ngarai Sianok longsor. f : ist
AGAM, detak24com – Tebing curam di kawasan Ngarai Sianok setinggi sekitar 120 meter dengan lebar 15 meter di wilayah Guguak Tinggi, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) longsor setelah hujan deras mengguyur dalam durasi panjang.
Peristiwa longsor yang terjadi pada Kamis (01/01/26) itu dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, dampaknya meluas hingga merusak lahan pertanian warga serta melumpuhkan aktivitas wisata di salah satu ikon alam Sumbar tersebut.
Walinagari Guguak Tinggi, Dasman menjelaskan, curah hujan tinggi menjadi pemicu utama runtuhnya tebing di sudut ngarai yang oleh warga setempat dikenal dengan nama Ngarai Kaluang.
“Hujan deras dengan durasi lama menjadi pemicunya. Puncaknya terjadi Kamis lalu. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” ujarnya, Ahad (04/01/25).
Dasman menyebutkan, lokasi longsor berada sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga, sehingga tidak diperlukan evakuasi penduduk.
Meski demikian, sejumlah sawah milik warga terpantau terkikis akibat material longsoran yang terbawa aliran air.
“Longsor ini bukan yang pertama, sudah beberapa kali terjadi. Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BPBD Agam dan terus berkoordinasi dengan pihak terkait, khususnya sepanjang aliran sungai di Ngarai Sianok hingga Bukittinggi,” katanya.
Pemerintah desa juga mengimbau warga, terutama petani dan pekebun, agar tidak beraktivitas di sekitar bibir ngarai demi menghindari risiko lanjutan.
“Pergerakan tanah masih relatif jauh dari rumah warga, tapi kami tetap mengingatkan masyarakat agar menjauh dari tepi ngarai,” tegasnya.
Longsor besar tersebut sempat terekam kamera warga dan viral di media sosial. Dalam rekaman itu terlihat material tebing runtuh bersamaan dengan derasnya aliran air.
Dasman mengungkapkan, saat kejadian terdapat lima warga yang tengah memperbaiki bak penampungan air untuk kebutuhan rumah tangga.
“Saat itu warga sedang memperbaiki bak air karena kami sedang mengalami krisis air bersih,” ungkapnya.
Beruntung, tidak ada pekerja yang berada tepat di titik longsor saat material runtuh.
Warga sekitar Ngarai Sianok, Rahmat (35) menyebut, kondisi sungai mengalami perubahan signifikan sejak banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025.
“Debit air dari hulu bertambah besar sejak banjir bandang. Titik longsor ini memang hanya sebagian, tapi aliran sungai makin deras dan merusak jalan,” ucap Rahmat.
Ia menambahkan, satu unit musala yang biasa digunakan pengunjung wisata juga roboh akibat terjangan air dan longsoran.
Dampak bencana tidak berhenti pada kerusakan fisik. Aktivitas pariwisata di Ngarai Sianok ikut menurun drastis, memukul sektor ekonomi warga yang menggantungkan hidup dari kunjungan wisatawan.
“Saya usaha rental pelampung dan mobil offroad. Sekarang belum bisa beroperasi maksimal karena wisatawan takut datang sejak bencana,” pungkasnya. (dtc)
Editor : Kar
