Korban Terakhir Pompong Tenggelam di Desa Mengkikip Ditemukan, Begini Kondisinya!
- account_circle Redaksi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- print Cetak

Jenazah korban Iqbal dievakuasi. f : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KEPULAUAN MERANTI, detak24com – Seorang pekerja penebang sagu yang jadi korban tenggelamnya kapal pompong di Perairan Desa Mengkikip, Kecamatan Tebingtinggi Barat, akhirnya ditemukan.
Kedua korban berinisial Amir (50) dan Iqbal (25). Korban AM terlebih dahulu ditemukan tim SAR gabungan pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 12.25 WIB, sedangkan
Korban Iqbal (25) ditemukan pada Kamis (06/08/26) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. “Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti Prima Harrie Saputra.
Dia mengatakan, jenazah korban telah dievakuasi oleh tim SAR dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Sehari sebelumnya, korban Amir juga telah ditemukan dengan keadaan meninggal dunia. Jenazah langsung diserahkan pada pihak keluarga.
Diketahui, kapal pompong yang mengangkut empat pekerja penebang sagu tenggelam Senin (03/08/26) sekitar pukul 10.00 WIB.
Berdasarkan informasi, kapal diduga diterpa angin kencang dan gelombang tinggi saat berada di perairan. Kondisi tersebut menyebabkan kapal oleng ke sisi kiri sebelum dihantam gelombang hingga air masuk ke lambung kapal.
“Kapal diduga oleng ke sisi kiri sebelum dihantam gelombang yang mengakibatkan air masuk ke dalam lambung kapal dan tenggelam,” jelasnya.
Dalam insiden tersebut, dua pekerja berhasil selamat, masing-masing Ivan (30) dan Bobi (30). Keduanya berhasil bertahan dengan memanfaatkan jeriken minyak sebagai alat bantu mengapung hingga akhirnya dapat diselamatkan.
Sementara, korban Amir dan Iqbal hilang. Operasi pencarian berlangsung selama empat hari dengan melibatkan berbagai unsur. Yakni, Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Ditpolairud Polda Riau, Satpolairud Polres Kepulauan Meranti, TNI AL, TNI AD, Polri, serta masyarakat nelayan.
Keberhasilan operasi pencarian tersebut merupakan sinergi seluruh unsur SAR gabungan yang tetap bekerja maksimal, meski menghadapi tantangan arus dan gelombang di lokasi kejadian.
“Operasi SAR diusulkan untuk ditutup, dan seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing,” pungkasnya seperti diberitakan cakaplah. (*)
Editor : Kar












