Rupiah Terpuruk Kian Dalam, Tembus Rp 17.500 per Dolar AS
Ilustrasi uang. f : ist
JAKARTA, detak24com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), melewati level Rp 17.500 per gram.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot exchange pada pukul 09.18 WIB melemah 10,50 poin atau 0,06% ke level Rp 17.539 per dolar AS.
Untuk mata uang Asia lainnya, mayoritas juga melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,04%, dolar Hong stagnan, dolar Singapura turun 0,02%, dolar Taiwan turun 0,05%, won Korea Selatan turun 0,29%, peso Filipina turun 0,03%, dan rupe India turun 0,06%.
Sementara itu, Yuan China naik 0,06%, ringgit Malaysia naik 0,12%, sedangkan baht Thailand naik 0,14%.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar AS tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Tekanan terhadap rupiah dinilai hanya bersifat sementara dan dipicu kombinasi faktor global maupun domestik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
“Tekanan rupiah meningkat karena situasi di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat, mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (12/05/26).
Murut Destry, konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global serta mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman. Permintaan valas meningkat untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), distribusi dividen perusahaan, hingga kebutuhan musim ibadah haji.
Namun, BI memastikan pelemahan rupiah saat ini tidak akan berlangsung lama, dan nilai tukar diperkirakan kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional, seperti diwartakan beritasatu. (*)
Editor : Kar
