Iran Ancam Bikin Senjata Nuklir Bahan Uranium, Jika Terus Diserang
Pembangkit listrik tenaga nuklir milik Iran di Kota Isfahan. f : ist
TEHERAN, detak24com – Pemerintah Iran bakal memproduksi senjata nuklir berbahan Uranium, jika negara mereka terus diserang.
Teheran mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka siap meningkatkan pengayaan uranium hingga ke level senjata (90 persen), jika wilayahnya kembali menjadi sasaran serangan militer.
Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, melalui unggahan di media sosial X pada Selasa (12/05/2026).
“Salah satu opsi Iran jika terjadi serangan lagi adalah pengayaan (uranium) hingga 90 persen. Kami akan meninjau hal ini di parlemen,” tegas Rezaei dikutip, Selasa (12/05/26).
Ancaman ini muncul di tengah situasi diplomatik yang sangat rapuh antara Teheran dan Washington pasca konflik bersenjata yang pecah pada Februari lalu. Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari perang singkat selama 12 hari pada Juni tahun lalu.
Saat itu, Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa fasilitas nuklir Iran telah “hancur total” akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Namun, laporan intelijen AS menunjukkan bahwa program nuklir Teheran tidak akan benar-benar terhambat kecuali cadangan uranium yang diperkaya tinggi (HEU) sebesar 400 kg disingkirkan atau dihancurkan.
Isu nuklir ini menjadi poin utama yang menghambat perundingan damai. Teheran bersikeras agar topik nuklir dibahas di tahap akhir, sementara Washington menuntut Iran untuk segera memindahkan stok uraniumnya ke luar negeri dan melepaskan hak pengayaan domestik. Presiden Trump sendiri menyatakan pada hari Senin bahwa gencatan senjata yang ada saat ini berada dalam kondisi “kritis” setelah ia menolak proposal terbaru dari Iran.
“Gencatan senjata ini sedang berada dalam masa-masa sulit (life support),” ujar Trump, menekankan betapa rapuhnya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut,” tambahnya.
Seperti diwartakan beritasatu, ketidakpastian ini semakin diperparah dengan tuduhan dari Kuwait yang menyebut Iran mengirim tim paramiliter Garda Revolusi untuk menyerang proyek pelabuhan yang didanai China di wilayah mereka. Di sisi lain, kerja sama militer antara Israel dan sekutu Arabnya justru semakin erat.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengungkapkan bahwa Israel telah mengirimkan baterai pertahanan udara Iron Dome beserta personelnya ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk menghadapi serangan Iran.
“Uni Emirat Arab adalah anggota pertama Abraham Accords, dan lihatlah manfaat yang mereka dapatkan. Israel mengirimkan baterai Iron Dome untuk membantu mereka,” imbuh Huckabee dalam sebuah konferensi di Universitas Tel Aviv.
UEA diketahui menjadi target serangan rudal dan drone paling intens dari Iran selama perang berlangsung, meskipun kedua negara berada dalam koridor gencatan senjata. Hubungan luar biasa antara UEA dan Israel ini menjadi benteng baru di Timur Tengah yang sangat ditentang oleh Teheran, namun dipandang sebagai stabilitas baru oleh blok Barat.
Situasi Timur Tengah kini berada di titik nadir, di mana satu kesalahan langkah dapat memicu perang terbuka kembali. Dengan rencana pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing dalam waktu dekat, isu serangan Iran terhadap proyek China di Kuwait serta ancaman nuklir 90 persen ini diprediksi akan menjadi agenda utama yang menentukan arah perdamaian global. (*)
Editor : kar
