DETAK24COM

Cepat Lugas dan Akurat

Polemik Tambang Timah Ilegal Mencuat, Inisial Popo Disebut Pengendali di Balik Layar! 

Gudang alat berat diduga milik pengusaha Popo di Bangka Belitung. f : ist

BABEL, detak24com – Gelombang desakan publik semakin menggema untuk mengusut tuntas secara mendalam aktifitas tambang timah ilegal di Bangka Belitung.

Akhir akhir ini, nama seorang pengusaha asal Sungai Liat berinisial Popo mencuat ke permukaan. Ia dikaitkan dengan tudingan keterlibatan dalam operasi dugaan tambang timah ilegal skala besar.

Meskipun berulang kali membantah di beberapa media keterlibatannya, serangkaian temuan dan indikasi di lapangan justru memperkuat desakan masyarakat agar aparat penegak hukum tidak menunda pengusutan dan segera mengungkap peran sebenarnya dari Popo sosok yang disebut-sebut sebagai pemain di belakang layar.

Pasca-razia besar-besaran terhadap aktivitas dugaan tambang ilegal di Lubuk Besar, wacana tentang keberadaan seorang pengusaha yang mengendalikan operasi dari balik layar kembali mencuat.

Di tengah hiruk-pikuk penertiban, publik semakin mengerucut pada satu nama yang terus disebut-sebut diduga “Popo”. Siapakah sebenarnya sosok ini, dan benarkah ia memiliki peran sentral dalam jaringan tambang timah ilegal yang merugikan negara?

Tim awak media ini berhasil menemukan sebuah area luas yang digunakan sebagai gudang alat berat tersembunyi tepatnya di Sri Menanti, Sungai Liat, Kabupaten Bangka.

Foto-foto dan vidio yang diperoleh di lapangan menunjukkan deretan kendaraan mewah yang diduga terkait dengan operasional tambang ilegal. Unit-unit alat berat merek Hitachi berjejer rapi, siap digunakan untuk menggali bumi Bangka Belitung.

Seorang sumber terpercaya yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa gudang alat berat tersebut milik seorang pengusaha berinisial Popo.

“Itu lokasi tempat parkir alat-alat berat milik Popo. Kalau tidak ada aktivitas, alat berat disimpan di situ. Semua alat berat itu siap digunakan kapan saja.” ungkap sumber di lapangan, Selasa (09/12/25).

Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa Popo memiliki jalur operasional alat berat yang diduga kuat terhubung dengan dugaan aktivitas tambang ilegal di Lubuk Besar dan kawasan hutan lindung Merapen.

Dalam razia tambang ilegal yang berlangsung baru-baru ini, beberapa nama sempat mencuat dalam percakapan publik, termasuk nama Herman Fu.

Masyarakat dengan tegas menyatakan, jika ingin memberantas aktifitas tambang timah ilegal, jangan hanya sebatas merazia lokasi saja. Tapi, namun juga harus diusut pemilik atau pemain di belakang layar.

“Jangan hanya berhenti pada operator lapangan, cari pemiliknya nya,” harap seorang warga.

Meskipun belum pernah diumumkan secara resmi oleh aparat penegak hukum, temuan gudang dan alat berat semakin mempertegas dugaan keterlibatan Popo dalam aktifitas tambang timah ilegal di Bangka Belitung.

Dalam dua tahun terakhir, diduga nama Popo acap mencuat dalam laporan investigasi di lapangan yang mengungkap berbagai dugaan keterlibatannya dalam aktivitas tambang ilegal.

Publik dengan tegas meminta Satgas PKH, Kejati Babel, Polda Babel untuk mengusut secara menyeluruh dan tanpa tebang pilih semua pihak yang terlibat dalam dugaan jaringan tambang timah ilegal ini.

Tuntutan masyarakat sangat jelas meminta segera bertindak, jangan hanya berhenti pada operator lapangan. Bongkar aktor besar di balik jaringan ini dan berikan hukuman yang setimpal!

Dugaan temuan gudang tersembunyi, alat berat di Sungai Liat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, menguatnya narasi publik membawa penyelidikan ini ke fase yang lebih serius. Benang merah mulai terlihat, namun masih banyak yang perlu diungkap.

“Segera telusuri, periksa, dan ungkap siapa pengendali sesungguhnya di balik jaringan tambang timah ilegal ini. Jika dugaan mengarah ke Popo, proses hukum tidak boleh ditunda. Keadilan harus ditegakkan, dan para perusak lingkungan serta penghianat negara harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan hukum,” harap warga lainnya.

Tim awak media mencoba konfirmasi kepada Popo pada Senin (08/12/25), namun tidak ada jawaban sama sekali hingga berita ini diturunkan. (*)

Reporter : Tama

Editor : Kar