DETAK24COM

Cepat Lugas dan Akurat

Harga Minyak Dunia Anjlok Dampak Sanksi Baru AS Terhadap Iran

Ilustrasi. f : ist

JAKARTA, detak24com – Harga minyak mentah dunia turun pada Jumat (20/06/25) setelah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran.

Langkah ini dianggap sebagai bagian dari pendekatan diplomatik yang membuka peluang terjadinya negosiasi, di tengah ketegangan antara Iran dan Israel.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun sebesar US$ 1,84 atau 2,33% menjadi US$ 77,01 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS jenis west texas intermediate (WTI) untuk kontrak Juli turun 21 sen atau 0,28% menjadi US$ 74,93 per barel.

Meskipun melemah pada akhir pekan, secara mingguan harga Brent masih naik 3,6% dan WTI naik 2,7%.

Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 20 entitas, lima individu, dan tiga kapal yang terkait Iran. Dua entitas di antaranya berbasis di Hong Kong. Sanksi ini juga mencakup tindakan terhadap kelompok yang diduga terkait terorisme.

Menurut John Kilduff, analis dari Again Capital di New York, sanksi ini bisa menjadi bagian dari strategi diplomatik yang bertujuan menghindari konflik militer.

“Langkah ini menunjukkan keinginan AS menyelesaikan ketegangan melalui negosiasi, bukan perang,” katanya.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hampir 3% setelah Israel menyerang fasilitas nuklir Iran, dan Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel. Konflik ini sudah berlangsung lebih dari seminggu, tanpa tanda-tanda mereda.

Namun, pasar mulai tenang setelah Gedung Putih menyampaikan bahwa Trump akan membutuhkan waktu dua minggu untuk memutuskan apakah AS akan terlibat lebih jauh dalam konflik Israel-Iran.

“Belum ada eskalasi besar, tetapi risiko terganggunya pasokan minyak dari kawasan tersebut tetap tinggi. Semuanya tergantung apakah AS akan ikut campur atau tidak,” ujar Russell Shor, analis dari Tradu.com.

Analis dari PVM, John Evans, mengingatkan bahwa serangan balasan antara Israel dan Iran bisa memicu insiden tak terduga yang dapat mengganggu infrastruktur minyak.

Iran sebelumnya pernah mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur penting ekspor minyak dari Timur Tengah. Namun sejauh ini, ekspor masih berjalan normal dan pasokan global dianggap stabil.

“Arah pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat tergantung pada apakah ada gangguan pasokan atau tidak,” ujar Giovanni Staunovo, analis UBS.

Ashley Kelty dari Panmure Liberum memperkirakan, apabila konflik sampai menyasar fasilitas ekspor atau jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak hingga US$ 100 per barel. (Red)

Editor : Kar