DETAK24COM

Cepat Lugas dan Akurat

Diduga Korban Bullying, Bocah SD di Seberida Inhu Meregang Nyawa 

Ilustrasi kasus perundungan pada anak. f : ist

INHU, detak24com – Dunia pendidikan Riau tercoreng oleh aksi bullying yang dialami bocah SD hingga korbannya meninggal di Seberida, Inhu.

Menyikapi hal itu, Gubri Abdul Wahid menyampaikan rasa keprihatinannya terhadap dugaan perundungan yang terjadi kepada anak sekolah dasar tersebut.

Peristiwa ini menjadi sorotan publik setelah meninggalnya K (8), seorang bocah kelas 2 SD di Kecamatan Seberida, Inhu diduga tak wajar.

Gubri menegaskan peristiwa seperti ini sangat tidak sejalan dengan nilai-nilai yang mengedepankan kasih sayang, toleransi, dan pembentukan karakter.

“Saya sangat prihatin. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, terutama di lingkungan sekolah,” kata Gubernur Abdul Wahid, Jumat (30/05/25) malam.

Gubri menginstruksikan pihak kepolisian dapat segera mengungkap fakta-fakta sebenarnya terkait peristiwa tersebut. Hal tersebut pentingnya penanganan yang tuntas agar tidak muncul spekulasi dan keresahan di tengah masyarakat.

“Saya minta kepolisian bekerja secara profesional dalam menangani kasus ini. Masyarakat perlu mendapatkan kejelasan,” ujarnya.

Gubri Abdul Wahid berharap agar kejadian serupa tidak lagi terulang di masa mendatang. Menurutnya, perlu ada upaya pencegahan sejak dini yang melibatkan seluruh unsur pendidikan dan keluarga.

“Saya ingin ini jadi pelajaran berharga bagi semua. Jangan sampai ada anak-anak kita yang menjadi korban kekerasan atau perundungan di sekolah,” tegasnya.

Diketahui, Kapolres Inhu, AKBP Fahrian menyatakan pihaknya telah menerima laporan orangtua korban yang mengaku anaknya dibuli dan mengalami kekerasan fisik. Saat ini kasusnya masih ditangani Satreskrim Polres Inhu.

“Belum diketahui pasti korban meninggal akibat apa. Tapi yang jelas kita selidiki laporan orang tua korban yang mengaku anaknya mengalami bullying, secepatnya kita tangani,” terangnya.

Kapolres menjelaskan, bahwa autopsi dimulai Senin (26/05/25) sekitar pukul 17.30 WIB dan berakhir pada pukul 20.00 WIB. Autopsi dilakukan di ruangan kamar mayat RSUD Indrasari Pematang Reba, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu.

Tim yang melakukan autopsi terdiri dari ahli forensik yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah AKBP Suprianto AMK, SKM, MH (Kasubid Dokpol Biddokes Polda Riau), Dr. M. Tegar Indrayana, Sp. FM (Dokter Spesialis Forensik), serta Tim Forensik Biddokes Polda Riau.

“Pihak keluarga korban turut hadir untuk menyaksikan langsung proses autopsi. Mereka ayah kandung dan paman korban. Kehadiran keluarga menjadi bagian penting dalam transparansi proses hukum yang sedang berjalan,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, ditemukan beberapa tanda kekerasan pada jenazah K. Mayat anak laki-laki itu menunjukkan adanya memar pada perut sebelah kiri bagian bawah dan tungkai atas sebelah kiri sisi depan.

“Selain itu, ditemukan pula resapan darah pada jaringan lemak di bawah kulit daerah perut, yang mengindikasikan adanya kekerasan tumpul,” tuturnya.

Lebih lanjut, tim forensik juga menemukan cairan bebas berwarna kelabu kecoklatan yang berbau busuk pada rongga perut, serta jaringan appendix (usus buntu) yang pecah atau perforasi. Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi penyidik dalam mengungkap rangkaian kejadian yang berujung pada kematian K.

Meskipun demikian, penyebab pasti kematian K belum dapat ditentukan secara final. Tim forensik masih menunggu hasil pemeriksaan histopatologi anatomi forensik untuk mendapatkan kesimpulan yang komprehensif mengenai penyebab kematian korban.

“Proses penyelidikan akan terus berlanjut untuk memastikan keadilan bagi K dan keluarganya,” tukasnya. dikutip dari cakaplah. (Red)

Editor : Kar