Terimakasih telah mengunjungi website kami. Ikuti kami terus di https://detak24.com
Kawanan Gajah Liar Hidup di Kebun Sawit Warga Pelalawan, BKSDA Bakal Evakuasi
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 18 Jul 2022
- print Cetak

Tanaman sawit eargy yang dirusak kawanan gajah liar di Pelalawan Riau. F: CAKAPLAH.COM
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pelalawan, detak24.com – Sejak beberapa bulan terakhir, tiga ekor gajah liar mengklaim kebun sawit warga Pelalawan Riau sebagai habitatnya. Alhasil, tanaman porak-poranda serta banyaknya kubangan untuk tempat mandi dan bermain hewan dilindungi tersebut.
Balai Taman Nasional (TN) Tesso Nilo bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melakukan upaya. Namun, belum berhasil menggiring gajah tersebut ke habitatnya. Yakni, di lansekap Tesso Nilo.
Kepala Balai TN Tesso Nilo, Heru Sutmantoro menyampaikan bahwa sampai saat ini upaya penanganan terus dilakukan oleh petugas walaupun terdapat beberapa kendala di lapangan.
“Kendala lokasi yang merupakan daerah rawa dan kurangnya dukungan masyarakat setempat atau pemilik kebun, menjadi masalah utama dalam penanganan,” kata Heru, Senin (18/7/2022).
Lanjutnya, apabila langkah penggiringan dalam waktu dekat tidak membuahkan hasil maka akan dilakukan evakuasi. Dirinya menerangkan bahwa evakuasi akan dilakukan dengan analisis dan pertimbangan yang matang, termasuk tempat release, agar proses evakuasi berjalan lancar dan sukses.
Pada Jumat (15/7/2022), Tim Operasi penanganan konflik gajah melakukan penyisiran terhadap keberadaan gajah liar yang berada di areal perkebunan sawit masyarakat di Dusun Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Sebelumnya, Tim bersama dengan Camat Pangkalan Kerinci, beserta Lurah dan perangkat desa setempat melakukan pemantauan terhadap kebun sawit masyarakat yang dirusak oleh gajah liar di sekitar Dusun Rantau Baru.
“Selanjutnya tim bergerak ke arah hulu sungai. Dimana sudah ada anggota tim bersama masyarakat yang memantau keberadaan gajah liar yang menurut informasi warga berjumlah 3 ekor (2 dewasa dan 1 anak),” sebutnya.
Hasil pantau tim operasi di lapangan ditemukan jejak gajah liar, tempat mandi atau istirahat dan bekas tanaman sawit yang dimakan gajah liar. Dari analisa tim, ejak gajah yang ditemukan masih baru. Diperkirakan gajah liar tersebut lewat pada hari Kamis lalu.
“Balai TN Tesso Nilo dan BBKSDA Riau telah diundang beberapa kali oleh Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pelalawan untuk mencari solusi. Baik solusi jangka pendek maupun jangka panjang,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) BBKSDA Riau, Fifin Arfiana Jogasara juga menerangkan bahwa perbaikan ekosistem sebagai habitat gajah tidak hanya di TN Tesso Nilo, namun juga pada areal-areal konsesi yg ada disekitarnya, mengingat konflik gajah terjadi justru di luar kawasan konservasi.
“Kantong-kantong habitat gajah banyak yang beririsan dengan hutan produksi, sehingga perlu dibangun koridor yang menghubungkan areal konservasi atau lindung di dalam konsesi HTI maupun HGU perkebunan sawit sebagai kewajiban mereka. Selain itu juga perlu didorong adanya regulasi di tingkat provinsi baik melalui Peraturan Gubernur atau Peraturan Daerah,” tutup Fifin.(cakaplah.com)
Editor : Kar











