Penyitaan Sabu 2 Ton di Batam Diduga Milik Dewi Astuti, Bos Narkoba Dunia Asal Jawa Timur
Tim gabungan gelar konferensi pers hasil tangkapan sabu 2 ton di dermaga Tanjung Uncang, Kota Batam, Senin (26/05/25). f : ist
JAKARTA, detak24com – Nama Dewi Astuti (DA) mencuat usai penyitaan sabu 2 ton di Batam, Senin (26/05/25). Barang haram tersebut diduga milik jaringan bandar narkoba dunia itu.
Dewi Astuti, seorang wanita asal Jawa Timur kini menjadi buruan utama Badan Narkotika Nasional (BNN) RI. Ia diduga sebagai otak jaringan internasional penyelundupan narkoba melalui jalur laut, termasuk kasus terbesar baru-baru ini di Kepulauan Riau.
Dewi Astuti masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) BNN setelah terlibat dalam penyelundupan heroin 2,76 kilogram pada September 2024.
Kasus ini terungkap saat Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta menangkap seorang kurir berinisial ZM yang membawa heroin tersembunyi di dinding koper.
Dari pengakuan ZM, BNN menelusuri jaringan hingga menemukan keterlibatan AH, yang memerintahkan pengambilan heroin dari Dewi Astuti di Kamboja. AH kemudian ditangkap di Medan, Sumatera Utara.
Kepala BNN Komjen Marthinus Hukom mengungkap bahwa Dewi Astuti telah lama termonitor dalam perdagangan narkoba internasional. Ia aktif beroperasi di kawasan Golden Triangle (Laos, Myanmar, Thailand), yang dikenal sebagai pusat produksi opium dan heroin di Asia Tenggara.
Dia (Dewi Astuti) adalah WNI yang bergabung dengan jaringan Afrika. Kemungkinan besar, pelaku yang ditangkap di Adis Ababa, Ethiopia, adalah bagian dari sindikatnya,” jelas Marthinus dikutip, Selasa (27/05/25).
BNN telah mengajukan Red Notice ke Interpol untuk menangkap Dewi Astuti, menjadikannya target buruan polisi internasional.
BNN bersama Bea Cukai Kepri dan TNI AL menggagalkan penyelundupan sabu 2 ton di Pelabuhan Bea Cukai, Batam, Kepri. Kapal Sea Dragon Tarawa diduga kuat merupakan bagian dari jaringan Dewi Astuti.
Sebelumnya, pada 12 Mei 2024, BNN juga menyita 1,9 ton sabu dan kokain dari kapal Aung Toe Toe 99 di perairan Selat Durian, Tanjung Balai Karimun. Hasil penyelidikan sementara mengarah ke sindikat Dewi Astuti.
“Kami masih menunggu hasil drugs signature. Jika cocok, dipastikan narkoba ini milik Dewi Astuti, dan kami akan kejar sampai ke mana pun,” tegas Marthinus.
BNN telah melakukan pengintaian selama lima bulan dan menemukan pola penyelundupan melalui perairan Kepri dari Kamboja. Enam pelaku telah ditangkap, masing-masing diupah Rp 25 juta dengan bonus Rp 50 juta jika berhasil mengantarkan narkoba.
“Satu pelaku utama, Acay (pemilik kapal dan nahkoda), masih buron. Kami terus berkoordinasi dengan intelijen dalam dan luar negeri untuk menangkap Dewi Astuti, yang diduga masih berada di Kamboja,” tambah Marthinus.
Dewi Astuti kini menjadi salah satu target utama pemberantasan narkoba di Asia Tenggara. BNN berkomitmen memburu sindikatnya hingga ke akar-akarnya, dikutip dari batamnews. (Red)
Editor : Kar
